Sangatta, PRANALA.CO — Festival adat Dayak Wahea “Lom Plai” siap kembali digelar di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Meski tahun ini tidak masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata, semangat masyarakat dan pemerintah daerah untuk memeriahkan tradisi leluhur ini tetap menyala.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim, Nurullah, mengatakan bahwa seluruh persiapan inti telah dilakukan bersama masyarakat adat di Desa Nehas Liah Bing, lokasi utama pelaksanaan festival.
“Jadwal dan acara sudah disusun, tinggal beberapa persiapan teknis yang disempurnakan,” ujarnya di Sangatta, Senin (21/4/2025).
Festival Lom Plai tahun ini akan digelar selama 9 hari, mulai 24 April hingga 1 Mei 2025. Rangkaian acara meliputi pameran budaya, lomba-lomba tradisional, pertunjukan tari, hingga pelaksanaan ritual adat sebagai bentuk syukur atas panen raya.
Lom Plai merupakan tradisi turun-temurun Suku Dayak Wahea yang telah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemkab Kutim ikut mengemasnya menjadi festival budaya sebagai upaya pelestarian warisan budaya lokal sekaligus destinasi wisata unggulan daerah.
Nurullah menyayangkan festival Lom Plai tidak terpilih dalam KEN 2025, meski telah diajukan dan sempat masuk tahap final presentasi. “Tahun ini memang tidak lolos, tapi itu tidak menyurutkan komitmen kami. Pemkab tetap memberikan dukungan, baik dari sisi pendanaan maupun tenaga,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Dayak Wahea Desa Nehas Liah Bing, Yuliana Watuq, menegaskan bahwa antusiasme masyarakat tetap tinggi meskipun festival tidak masuk dalam agenda nasional.
“Masuk atau tidak dalam KEN, kami tetap gotong royong menyiapkan segala sesuatunya. Ini bagian dari kehidupan kami,” ujarnya. (
Menurut Yuliana, dukungan dari pemerintah daerah dan perusahaan di sekitar wilayah juga turut membantu keberlangsungan acara. Ia berharap ke depan perhatian dari pemerintah pusat bisa lebih besar terhadap pelestarian budaya lokal seperti Lom Plai.
Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga wadah mempererat kebersamaan warga dan memperkenalkan kekayaan tradisi Dayak Wahea ke publik yang lebih luas.
“Budaya ini bukan hanya milik Dayak Wahea, tapi milik Indonesia. Kita harus jaga sama-sama,” pungkas Yuliana. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















