WALI Kota Bontang, Neni Moerniaeni, angkat bicara soal munculnya kekhawatiran masyarakat terkait kasus autisme yang dikaitkan dengan keberadaan industri di kota tersebut.
Neni meminta publik tidak langsung menarik kesimpulan tanpa dasar ilmiah yang kuat. Menurutnya, kasus autisme tidak hanya ditemukan di kawasan industri seperti Bontang. Beberapa daerah nonindustri juga memiliki kasus serupa.
“Tidak bisa langsung dijustifikasi. Di semua daerah juga ada kasus autisme, bukan hanya di Bontang,” ujar Neni, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan itu muncul di tengah diskusi publik mengenai kemungkinan pengaruh lingkungan terhadap gangguan perkembangan anak.
Neni mengakui, sejumlah penelitian memang menyebut paparan logam berat seperti timbal atau plumbum dapat menjadi salah satu faktor risiko.
Namun, ia menegaskan faktor penyebab autisme sangat kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya karena keberadaan industri.
Di sisi lain, Neni juga menyinggung kondisi lingkungan laut di Bontang.
Ia menyebut bulu babi menjadi salah satu indikator alami yang sensitif terhadap kualitas perairan, termasuk keberadaan logam berat dan mikroplastik.
“Bulu babi itu salah satu indikator kualitas laut. Kalau ada logam berat dan mikroplastik, itu bisa terdeteksi,” katanya.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena Bontang dikenal sebagai salah satu kota industri terbesar di Kalimantan Timur. Isu kesehatan lingkungan pun kembali menjadi perhatian publik.
Namun, alih-alih memperdebatkan penyebab, Neni memilih mendorong langkah konkret berupa deteksi dini autisme dan gangguan tumbuh kembang anak.
Menurutnya, gejala autisme biasanya mulai terlihat ketika anak memasuki fase interaksi sosial. Karena itu, pemantauan rutin melalui Posyandu dinilai sangat penting.
“Kalau autisme itu biasanya terlihat ketika anak mulai berinteraksi. Makanya penting datang ke Posyandu supaya tumbuh kembang anak bisa terdeteksi sejak dini,” ujarnya.
Pemkot Bontang kini berencana melibatkan kader Posyandu lebih aktif dalam pendataan anak yang terindikasi mengalami gangguan tumbuh kembang.
Pendataan akan dilakukan secara rinci dengan sistem by name by address agar penanganan lebih tepat sasaran.
Neni juga menekankan bahwa anak berkebutuhan khusus tidak bisa disamaratakan hanya dalam satu kategori disabilitas. Sebab, setiap kondisi memiliki kebutuhan penanganan berbeda.
“Nanti kader Posyandu kita minta mencatat kalau ada gejala seperti itu. Nama dan alamatnya dicatat supaya bisa saling membantu,” tegasnya. [CK/WIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















