SETORAN pajak dari Bontang City Mall (BCM) masih jauh dari target. Hingga 30 April 2026, realisasinya baru Rp3,32 miliar atau 28,47 persen dari target Rp36,5 miliar yang dipatok Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bontang.
Kondisi ini memicu perhatian serius Pemkot Bontang. Kepala Bapenda Bontang, Natalia Trisnawati, menilai rendahnya capaian bukan semata soal potensi, melainkan juga kepatuhan dan pengawasan di level operasional.
“Kolaborasi itu penting. Pengelola BCM juga harus aktif melakukan monitoring di lapangan, dari parkir, restoran, hingga tempat hiburan,” ujar Natalia usai bertemu manajemen BCM, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan, pusat perbelanjaan bukan sekadar ruang bisnis. Di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi yang langsung berkaitan dengan kewajiban pajak daerah. Karena itu, pengelola mall dinilai perlu mengambil peran lebih dari sekadar penyedia tempat usaha.
Sorotan utama Bapenda Bontang mengarah pada tenant, khususnya sektor makanan-minuman dan hiburan. Dua sektor ini selama ini menjadi penyumbang terbesar pajak daerah, namun juga rawan tidak optimal jika pengawasan lemah.
Secara struktur, pajak dari BCM bersumber dari Pajak Makanan dan Minuman, Pajak Parkir, Pajak Hiburan, serta Pajak Reklame. Dari keempatnya, sektor makanan dan minuman mendominasi karena tingginya frekuensi transaksi harian.
Pada 2026, target Pajak Makanan dan Minuman dari BCM mencapai Rp31,3 miliar, dengan proyeksi realisasi sekitar Rp8,4 miliar. Angka ini menunjukkan ketergantungan besar terhadap aktivitas konsumsi pengunjung mall.
Namun, jika melihat capaian hingga April, terdapat gap signifikan antara target dan realisasi. Situasi ini membuka ruang evaluasi, baik dari sisi kepatuhan pelaku usaha maupun efektivitas pengawasan.
Di sisi lain, Bapenda mengingatkan bahwa pajak daerah memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Dana yang terkumpul menjadi sumber pembiayaan pembangunan, mulai dari infrastruktur hingga layanan publik.
“Pajak itu kembali ke masyarakat. Jadi bukan sekadar kewajiban administrasi, tapi bagian dari kontribusi terhadap pembangunan kota,” kata Natalia.
Dengan sisa waktu delapan bulan, Bapenda Bontang kini bertaruh pada penguatan pengawasan dan sinergi dengan pengelola serta tenant BCM. Tanpa perbaikan signifikan, target puluhan miliar rupiah tersebut berpotensi sulit tercapai. [ADS/FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















