LONJAKAN kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan: sekira 60–70 persen korban adalah anak. Data terbaru Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) menunjukkan tren peningkatan laporan dalam dua tahun terakhir, dengan korban didominasi anak perempuan.
Pelaksana Tugas Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni Djufril Larose, menyebut peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan indikasi fenomena “gunung es” yang mulai terangkat ke permukaan.
“Yang terlihat hanya sebagian kecil. Di bawahnya masih banyak yang belum terungkap,” kata Nursyamsiarni, Kamis (30/4/2026).
Dalam catatan DP3AKB, kenaikan kasus pada periode 2024 hingga 2025 berkisar 15–20 persen. Namun, peningkatan ini tidak sepenuhnya berarti kejadian baru bertambah drastis. Nursyamsiarni menilai, salah satu faktor utama adalah semakin terbukanya akses pelaporan dan meningkatnya kesadaran masyarakat.
“Sekarang masyarakat lebih berani dan tahu harus melapor ke mana. Dulu banyak yang memilih diam,” ujarnya.
Meski begitu, jenis kekerasan yang dialami korban menunjukkan kompleksitas yang lebih dalam. Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga verbal hingga pelecehan seksual. Dalam sejumlah kasus, satu korban mengalami lebih dari satu bentuk kekerasan secara bersamaan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa anak bukan hanya rentan, tetapi juga berada dalam lingkaran kekerasan yang berlapis. Dominasi korban anak perempuan menjadi catatan tersendiri, sekaligus memperkuat pola kerentanan berbasis gender yang masih terjadi.
Di sisi lain, meningkatnya laporan justru dibaca sebagai sinyal positif dari sisi sistem perlindungan. Keberanian korban dan masyarakat untuk melapor dinilai sebagai hasil dari upaya edukasi dan pembukaan kanal pengaduan yang lebih luas.
Pemerintah Kota Balikpapan melalui DP3AKB telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan, termasuk layanan psikolog di UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta penguatan program Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Namun, tantangan terbesar masih terletak pada pencegahan di tingkat keluarga dan lingkungan terdekat. Sebab, dalam banyak kasus, pelaku justru berasal dari lingkaran yang dikenal korban.
Dia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran masyarakat dan media, untuk memutus rantai kekerasan sejak dini. Dengan tren yang terus meningkat, upaya penanganan tidak lagi cukup reaktif, tetapi harus menyasar akar persoalan yang selama ini tersembunyi. [SR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















