AISYIYAH Bontang menggelar Pelatihan Mubalighoh Aisyiyah Selasa, 25 Agustus 2026. Hal ini untuk memperkuat kemampuan dai perempuan dalam mengelola dakwah sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Kegiatan yang berlangsung di Panti Putra Mawaddatullah, Bontang, menghadirkan Suriadi Said, Pimpinan Redaksi Pranala.co, sebagai pemateri dengan materi Manajemen Dakwah dan Dakwah Digital.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Bontang, Lifia Indah Pratiwi, berujar perubahan pola komunikasi masyarakat membuat ruang dakwah semakin luas. Pesan keagamaan kini tidak hanya disampaikan melalui mimbar, pengajian, atau majelis taklim, tetapi juga melalui berbagai platform digital.
Media sosial, YouTube, podcast, hingga kanal komunikasi digital membuka peluang bagi mubalighoh untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
"Kemampuan berdakwah perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola kegiatan, memahami karakter sasaran, serta memilih media yang sesuai," ujar dia.
Dia melanjutkan pelatihan ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai manajemen dakwah, tetapi juga diajak melihat bagaimana pesan dakwah dapat dikemas agar relevan dengan karakter masyarakat digital.
Materi manajemen dakwah mencakup konsep dan prinsip dasar, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga evaluasi kegiatan.
Peserta juga diajak memahami kebutuhan dan karakteristik sasaran dakwah. Dari sana, mereka dapat menyusun tujuan, program, sumber daya, serta strategi dakwah yang lebih terarah.

Pendekatan tersebut penting agar kegiatan dakwah tidak berhenti pada pelaksanaan acara, tetapi memiliki tujuan yang jelas dan dapat dievaluasi.
Pada materi dakwah digital, peserta diperkenalkan dengan karakteristik sejumlah platform digital beserta peluang dan tantangannya.
Materi mencakup teknik dasar membuat konten berupa teks, foto, poster, video pendek, reels, hingga live streaming.
Storytelling juga menjadi bagian pembahasan agar pesan dakwah dapat disampaikan secara lebih menarik tanpa kehilangan substansi.
Peserta turut mendapatkan materi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI secara bijak, etika bermedia sosial, tabayyun, literasi digital, serta pencegahan penyebaran hoaks.
Mereka juga diarahkan membuat satu konsep konten dakwah digital yang dapat dikembangkan menjadi poster, video pendek, reels maupun konten media sosial.
Target tersebut membuat pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori. Peserta diharapkan membawa hasil praktik yang dapat dikembangkan setelah kegiatan selesai.
"Kami berharap para peserta mampu menghasilkan sedikitnya satu rancangan sederhana program dakwah sesuai kebutuhan sasaran," jelas dia. (*)















