DUA gajah Sumatra bernama Deo dan Sinta resmi menempati habitat baru di Tabang Zoo, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengonfirmasi proses translokasi gajah sumatra tersebut berjalan lancar dan kedua satwa titipan negara tiba dalam kondisi sehat.
Deo yang berusia 30 tahun serta Sinta berusia 40 tahun mendatangi Lembaga Konservasi PT SGBL atau Tabang Zoo pada Selasa (18/8/2026) malam. Tim medis langsung bergerak cepat memeriksa kondisi fisik kedua mamalia besar ini.
“Keduanya langsung dipindahkan ke fasilitas khusus. Hasil pemeriksaan tim medis menunjukkan kondisi keduanya sangat sehat,” ujar Kepala BKSDA Kaltim M. Ari Wibawanto di Samarinda, mengutip Antara, Kamis (20/8/2026).
Usai menempuh perjalanan jarak jauh, Deo dan Sinta kini menjalani masa adaptasi di area paddock seluas 1,1 hektare. Lingkungan ini dirancang khusus untuk menjamin ruang gerak yang luas serta mendukung kesejahteraan hidup mereka.
Kompleks baru tersebut dilengkapi kandang utama, area umbaran, kandang jepit, hingga gudang penyimpanan pakan bernutrisi. Seluruh desain pembangunan mengacu pada rekomendasi para ahli gajah demi memenuhi standar internasional pemeliharaan satwa dilindungi.
Sebelum boyong ke Kutai Kartanegara, Deo dan Sinta sempat menitipkan diri di Gembira Loka Zoo, Yogyakarta. Masa penitipan di Yogyakarta dimanfaatkan para ahli untuk mempelajari karakter serta perilaku harian keduanya sebagai persiapan matang sebelum skema translokasi gajah sumatra dieksekusi.
Alasan Kepindahan dan Kapasitas Fasilitas
Ari menjelaskan bahwa keputusan pemindahan diambil lantaran kapasitas fasilitas penampungan sebelumnya sudah kian terbatas. Ruang yang makin sempit dikhawatirkan mengganggu efektivitas pengelolaan dan upaya pengembangbiakan satwa secara optimal.
Oleh karena itu, BKSDA Kaltim bersama tim ahli menggelar asesmen kelayakan menyeluruh. Langkah ini guna memastikan parameter lingkungan dan kesiapan infrastruktur di Tabang Zoo benar-benar sesuai dengan daya dukung biologis Deo dan Sinta.
Mengingat durasi perjalanan lintas pulau berpotensi memicu tingkat stres tinggi pada satwa, BKSDA Kaltim menaruh perhatian ekstra pada fase awal penyesuaian diri ini.
Demi menjaga kondisi kesehatan mental dan fisik kedua gajah, tim gabungan diturunkan secara penuh di lapangan.
“Kami menyiagakan tiga dokter hewan dan belasan perawat khusus untuk memantau kondisi serta proses adaptasi mereka setiap hari,” tutur Ari.
Para perawat satwa tersebut merupakan kolaborasi tenaga ahli dari Gembira Loka Zoo dan Tabang Zoo. Selain pemantauan langsung di lokasi, pengelola Tabang Zoo wajib menyetorkan laporan rekam medis berkala kepada otoritas terkait.
BKSDA Kaltim menegaskan pengawasan tidak berhenti di masa adaptasi saja, melainkan berlanjut secara berkelanjutan sebagai wujud tanggung jawab negara. (*)















