KASUS HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Bontang mencapai 441 kasus baru sepanjang 2021 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 253 orang masih menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), sedangkan sekitar 188 orang tercatat meninggal dunia atau tidak lagi mengikuti pengobatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan kasus HIV di Kota Bontang masih ditemukan setiap tahun. Jumlahnya pun berubah-ubah dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Data Dinkes Bontang menunjukkan kasus baru HIV sempat mengalami kenaikan cukup tajam hingga 2023. Setelah itu, jumlah kasus baru kembali menurun pada 2024, 2025, hingga 2026.
Pada 2021, Diskes Bontang mencatat 53 kasus baru HIV. Rinciannya terdiri dari 27 laki-laki dan 26 perempuan.
Setahun kemudian, jumlah kasus meningkat menjadi 98 orang. Dari angka tersebut, 58 kasus terjadi pada laki-laki dan 40 kasus pada perempuan.
Lonjakan paling tinggi dalam periode tersebut tercatat pada 2023. Dinkes menemukan 130 kasus baru HIV, dengan 87 kasus pada laki-laki dan 43 kasus pada perempuan.
Angka itu kemudian turun menjadi 65 kasus pada 2024. Komposisinya terdiri dari 40 laki-laki dan 25 perempuan.
Pada 2025, jumlah kasus baru kembali turun menjadi 52 kasus, dengan rincian 39 laki-laki dan 13 perempuan.
Hingga 2026, Diskes Bontang mencatat 43 kasus baru HIV. Sebanyak 24 kasus terjadi pada laki-laki dan 19 kasus pada perempuan.
Jika dilihat dari data tahunan tersebut, laki-laki masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus lebih tinggi dibanding perempuan dalam beberapa tahun terakhir.
Rincian Kasus Baru HIV 2021-2026

Toetoek menyebut faktor risiko penularan HIV masih berkaitan dengan kelompok yang memiliki hubungan langsung dengan potensi transmisi HIV.
Diskes Bontang mencatat sejumlah kelompok yang menjadi perhatian dalam penanganan HIV. Di antaranya penularan dari orang dengan HIV (ODHIV) kepada pasangan, pelanggan pekerja seks, calon pengantin, penderita tuberkulosis (TB), lelaki yang suka lelaki (LSL), pelanggan penjaja seks, serta pasangan dengan risiko tinggi.
Pemetaan terhadap kelompok berisiko menjadi bagian penting dalam upaya menemukan kasus baru sekaligus memastikan orang yang telah teridentifikasi dapat memperoleh layanan kesehatan.
Penanganan HIV juga tidak berhenti setelah seseorang mendapatkan hasil pemeriksaan. Pengobatan yang berkelanjutan menjadi bagian penting agar pasien tetap mendapatkan terapi sesuai layanan kesehatan yang tersedia.
253 Orang Masih Menjalani Terapi ARV
Dari total 441 kasus baru yang tercatat sepanjang 2021 hingga 2026, sebanyak 253 orang masih menjalani pengobatan antiretroviral atau ARV.
ARV merupakan terapi yang digunakan bagi orang dengan HIV untuk membantu mengendalikan virus. Dalam konteks data Bontang, keberlanjutan pengobatan menjadi salah satu tantangan yang masih harus diperhatikan.
Pasalnya, terdapat sekira 188 orang yang tidak lagi berada dalam pengobatan. Kelompok tersebut mencakup orang yang tercatat meninggal dunia maupun pasien yang tidak lagi mengikuti pengobatan atau lost follow up.
Tantangan Menjaga Pasien Tetap dalam Pengobatan
Diskes Bontang menghadapi tantangan untuk memastikan orang yang telah teridentifikasi HIV tetap mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan.
Dari 441 kasus yang tercatat, sebanyak 253 orang masih menjalani terapi ARV. Sementara sekitar 188 orang masuk dalam catatan meninggal dunia maupun lost follow up.
Kondisi tersebut membuat kesinambungan pengobatan menjadi salah satu perhatian dalam penanganan HIV di Bontang.
Data tahunan juga menunjukkan pola yang berubah. Setelah mencapai 130 kasus baru pada 2023, jumlahnya turun menjadi 65 kasus pada 2024, 52 kasus pada 2025, dan 43 kasus hingga 2026.
Penurunan jumlah kasus baru tidak menghapus tantangan lain dalam penanganan HIV, terutama memastikan pasien yang sudah teridentifikasi tidak terputus dari pengobatan dan layanan kesehatan. (*)















