DARI puluhan penampil yang silih berganti sejak pagi, satu nama akhirnya keluar sebagai pemenang Lomba Bertutur tingkat SD/MI se-Kota Bontang 2026. Muhammad Rhisyam Al Zailani, siswa SDN 001 Bontang Selatan, menempati posisi teratas setelah bersaing dengan 49 peserta lain dalam ajang yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang.
Kompetisi ini diikuti 50 siswa dari berbagai sekolah di Bontang. Mereka tampil dengan pendekatan berbeda—mulai dari penguatan karakter lewat ekspresi, permainan intonasi, hingga kostum yang dirancang untuk menghidupkan cerita di atas panggung.
Sejak babak penyisihan, persaingan terlihat ketat. Setiap peserta membawa cerita dengan gaya masing-masing, membuat penilaian tidak hanya bertumpu pada isi cerita, tetapi juga bagaimana cerita itu disampaikan. Dewan juri menilai aspek teknik bertutur, penguasaan materi, hingga penampilan secara keseluruhan.
Proses penilaian dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang Nomor: 000.4.16/86/DPK/2026 tertanggal 16 April 2026. Dari hasil tersebut, terpilih enam pemenang dan empat finalis yang dinilai tampil paling optimal.
Selain Rhisyam sebagai Juara 1, posisi Juara 2 diraih Salsabila Tsaniya Rahma (SDN 010 Bontang Selatan), dan Juara 3 ditempati Ayunindya Rania Kurniawan dari sekolah yang sama.
Sementara itu, Juara Harapan 1 hingga 3 masing-masing diraih Queen Faradisha Zahra Ramadhani (SDN 001 Bontang Utara), Elsa Aqila Sofiyah (SDN 001 Bontang Utara), dan Andi Muhammad Edgar Jagatanegara (SDIT Cahaya Fikri).
Di luar podium, empat finalis lain tetap mencuri perhatian. Mereka dinilai mampu menampilkan cerita dengan karakter kuat meski harus berhenti sebelum posisi juara.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang, Retno Febriaryanti, sebelumnya menekankan bahwa lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari upaya membangun budaya literasi sejak dini.
“Di tengah tantangan rendahnya minat baca di berbagai daerah, lomba bertutur seperti ini menjadi cara lain mendekatkan anak pada cerita,” jelas Retno.
Retno bilang lomba ini bukan sekadar hanya membaca, tetapi juga memahami, menghidupkan, dan menyampaikan kembali—sebuah proses yang menguji sekaligus melatih keberanian dan kreativitas. [RE]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















