BAYANG-bayang fenomena El Nino mulai mendekati sektor pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim). Pemerintah provinsi bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar pasokan pangan masyarakat tidak terganggu.
Puncak kemarau panjang ini diprediksi bakal menghantam Benua Etam pada Agustus mendatang. Gerak cepat sejak dini menjadi kunci agar sawah-sawah warga tidak berujung gersang.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Fahmi Himawan, menyebut cuaca di wilayahnya saat ini sebenarnya masih cukup bersahabat. Intensitas hujan yang terkadang masih turun menjadi modal berharga bagi para petani.
“Kita bersyukur Kalimantan Timur tidak mengalami kemarau yang terlalu ekstrem. Meskipun beberapa daerah sudah mulai kering, di Kaltim masih sering terjadi hujan,” ujar Fahmi, Kamis (15/6/2026).
Situasi unik ini bak durian runtuh. Petani lokal diminta memanfaatkan sisa curah hujan yang ada untuk mempercepat masa tanam, sebelum tanah mendadak keras dan retak akibat kemarau.
Fahmi mendorong para petani untuk segera menerapkan prinsip sedia payung sebelum hujan. Memanen air hujan sekarang adalah cara terbaik menyelamatkan tanaman saat bulan-bulan kering nanti.
“Petani kami dorong untuk melakukan penampungan air hujan sebagai langkah antisipasi apabila nanti memasuki masa kemarau yang lebih panjang,” jelas Fahmi.
Bukan cuma itu, pemerintah daerah juga tidak mau membiarkan petani berjuang sendirian. DPTPH Kaltim kini tengah melobi pemerintah pusat demi mengamankan infrastruktur pengairan darurat.
Koordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian terus dikebut. Targetnya: bantuan pompa air dan sistem perpipaan harus cepat sampai ke tangan petani sebelum Agustus tiba. [RIL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















