MENYAMBUT datangnya Malam 1 Suro di Bontang, sekelompok pencinta budaya yang tergabung dalam Paguyuban Tosan Aji Besai Berinta Bontang (Panji Beber) bersiap menggelar ritual sakral yang mulai langka: Jamasan Pusaka.
Bukan di tanah Jawa, tradisi adiluhung ini justru dihidupkan di tanah Borneo, Bontang. Langkah ini menjadi bukti bahwa jarak tak mampu mengikis ikatan batin manusia dengan warisan leluhurnya.
Prosesi memandikan benda-benda pusaka ini dijadwalkan berlangsung, Senin (15/6/2026) mulai pukul 19.45 WITA. Warga dan pencinta tosan aji akan berkumpul di kediaman Maryono, Jalan Swakarya, Kelurahan Belimbing, Kota Bontang.
Bagi sebagian orang, memandikan keris atau tombak di Malam 1 Suro kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Namun, Ketua Paguyuban Panji Beber Bontang, Maryono, meluruskan anggapan tersebut.
Bagi Maryono, ritual ini adalah bentuk penghormatan paling jujur terhadap sejarah dan karya seni tinggi para leluhur.
“Jamasan pusaka merupakan bagian dari tradisi budaya yang mengandung makna penghormatan kepada warisan leluhur,” ujar Maryono dengan nada takzim.
Melalui bilah-bilah besi tua yang dibersihkan, ada nilai kehidupan, sejarah, dan filosofi mendalam yang ikut digali kembali. Maryono ingin membuka mata publik bahwa tosan aji adalah mahakarya, bukan sekadar benda keramat.
Menariknya, ritual Malam 1 Suro di Bontang kali ini sama sekali tidak eksklusif. Pihak panitia membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin menyaksikan langsung.

Mulai dari kolektor, pengamat budaya, hingga anak muda yang penasaran, semuanya diundang hadir. Penyelenggara juga menyiapkan rentetan acara mulai dari doa bersama, prosesi jamasan, hingga sarasehan budaya.
Dalam sesi sarasehan nanti, para sesepuh akan mengupas tuntas cerita dan filosofi yang tertanam di setiap lekuk pusaka Nusantara. Langkah ini sengaja diambil untuk membentengi identitas bangsa dari gempuran modernisasi yang kian deras.
“Kami ingin Malam Suro menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menjaga tradisi, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda,” kata Maryono menekankan.
Dia sadar betul, jika bukan generasi hari ini yang peduli, benda-benda bersejarah itu hanya akan berakhir menjadi pajangan mati yang kehilangan ruhnya. Semangat nguri-uri kabudayan atau merawat budaya Nusantara inilah yang ingin ditiupkan kembali dari Bontang untuk Indonesia. [IR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














