PELATARAN Masjid Agung Al Faruq Bukit Pelangi, Kutai Timur (Kutim), mendadak riuh, Senin (15/6/2026) petang. Isak tangis bahagia berbaur haru pecah saat bus yang membawa rombongan jemaah haji Kutim memasuki area masjid.
Keluarga yang sudah menunggu sejak siang langsung merangsek maju. Mereka tak kuasa menahan rindu, mencari wajah-wajah terkasih yang baru saja menyelesaikan perjalanan spiritual panjang di Tanah Suci.
Namun, di balik kebahagiaan malam itu, ada duka yang menggelayut tipis. Jemaah haji Kutim yang kembali ke kampung halaman tidak lagi utuh seperti saat dilepas pergi.
Kepala Kemenhaj Kutim, Basmawati Sija, membeberkan bahwa awalnya ada 172 jemaah yang berangkat ke Mekkah. Sayangnya, dua di antara mereka harus mengembuskan napas terakhir di tanah para nabi.
“Dua jemaah yang wafat di Tanah Suci yakni Yusup Hasan Kaco, usia 65 tahun, asal Kecamatan Karangan. Beliau wafat pada 17 Mei 2026,” ujar Basmawati saat menyambut kedatangan jemaah.
Satu jemaah lainnya yang berpulang adalah Hajah Idae Bandung Nuheng. Perempuan berusia 68 tahun asal Kecamatan Sangatta Utara tersebut wafat pada 3 Juni 2026.
Meskipun duka menyelimuti, Basmawati memastikan secara umum ibadah haji tahun ini berjalan lancar. Sebanyak 170 jemaah yang kembali berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan stabil.
Keberhasilan ini, menurutnya, merupakan buah dari kerja keras semua pihak. Mulai dari petugas kesehatan hingga dukungan doa dari keluarga di tanah air.
Suasana penyambutan semakin syahdu saat Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, memberikan ucapan selamat datang. Didampingi istri dan jajaran Forkopimda, Ardiansyah menyalami para jemaah satu per satu.
“Pemerintah dan masyarakat Kutim menyampaikan ucapan marhaban fi hudurikum, selamat datang kembali kepada para jemaah haji, tamu-tamu Allah,” kata Ardiansyah dengan nada bergetar.
Bupati berharap, sepulangnya dari Mekkah, para jemaah bisa menjadi teladan di lingkungan mereka. Perubahan perilaku menjadi lebih baik adalah cerminan dari haji yang mabrur.
Ardiansyah juga meminta para jemaah tidak pelit berbagi cerita. Pengalaman spiritual selama di Arab Saudi diharapkan bisa menular dan memotivasi warga lain.
“Mudah-mudahan cerita tentang haji, cerita tentang Arafah, pelontar jumrah di Mina, mabit di Muzdalifah, dapat disampaikan kepada sanak keluarga,” tuturnya. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















