LOMBA Bertutur 2026 di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) tak sekadar panggung anak-anak bercerita. Di forum itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyoroti isu yang lebih besar: literasi digital anak di tengah derasnya arus informasi, Rabu (29/4/2026).
Di hadapan para finalis, Neni menegaskan bahwa literasi kini tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi, kata dia, telah berkembang menjadi kemampuan memahami, memilah, hingga menggunakan informasi secara cerdas—termasuk di ruang digital.
“Lomba bertutur ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menggambarkan kemampuan komunikasi verbal anak-anak dalam menyampaikan cerita, informasi, bahkan pengetahuan,” ujar Neni.
Sorotan itu muncul di tengah realitas anak-anak yang semakin akrab dengan gawai dan internet. Menurut Neni, kemudahan akses informasi membawa peluang sekaligus risiko jika tidak diimbangi kemampuan literasi yang memadai.
“Teknologi digital adalah bagian dari literasi. Tapi anak-anak tetap perlu pendampingan agar tidak salah dalam memanfaatkan informasi yang begitu mudah diakses saat ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan literasi sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar aktivitas di ruang kelas atau perlombaan. Membaca, menurutnya, tetap menjadi fondasi untuk memperluas wawasan di tengah perubahan zaman.
“Dengan membaca, kita bisa mengenal dunia, memahami berbagai peristiwa, dan menjadi pribadi yang lebih cerdas,” ucapnya.
Dalam kesempatan sama, Neni mengapresiasi keberanian para peserta yang tampil di babak final. Ia mendorong anak-anak untuk terus mengasah kemampuan, terlepas dari hasil yang diraih dalam kompetisi.
“Yang menang tentu kita apresiasi, tetapi yang belum berhasil jangan berkecil hati. Terus belajar dan jadilah anak yang cerdas, pintar, dan tangguh,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Bontang, Retno Febriaryanti, menjelaskan lomba tersebut melalui proses seleksi bertahap. Dari 50 peserta yang mengikuti penyisihan pada 28 April 2026, sebanyak 10 finalis melaju ke babak akhir.
Pemenang pertama akan mewakili Bontang ke tingkat provinsi, bahkan berpeluang melaju ke tingkat nasional. Retno menambahkan, cerita yang dibawakan peserta berasal dari cerita lokal khas Bontang sebagai upaya pelestarian budaya daerah di tengah arus globalisasi.
Kegiatan ini juga didukung dana alokasi khusus (DAK) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sebagai bagian dari penguatan literasi di daerah. [ADS/FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















