ANCAMAN penyakit kardiovaskular atau jantung kini tengah mengintai masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim). Pemicu utamanya bukan lagi rahasia, melainkan melonjaknya kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi yang angkanya kian mengkhawatirkan.
Dinas Kesehatan Kaltim mencatat, penyakit silent killer ini menjadi jenis gangguan kesehatan yang paling banyak diderita oleh masyarakat setempat. Berdasarkan data diagnosis sepanjang tahun 2025, angka kasus hipertensi di Kaltim sudah menembus 371.317 orang.
Kepala Diskes Kaltim, Jaya Mualimin, meminta masyarakat tidak meremehkan kondisi ini. Ia menegaskan bahwa gaya hidup tidak sehat menjadi motor utama di balik ledakan angka penularan penyakit tersebut.
”Memang hipertensi kita ini tinggi, ini kan salah satu faktor pemicu penyakit jantung,” ujar Jaya Mualimin saat ditemui di Sangatta, Jumat (19/6/2026).
Jaya mengimbau masyarakat untuk segera berbenah dan kembali menerapkan pola hidup sehat sebelum terlambat. Langkah preventif yang paling mendesak adalah menjaga asupan makanan harian.
”Masyarakat harus rutin olahraga. Kemudian makannya diatur, jangan terlalu banyak lemak, serta kurangi gula dan garam,” ucapnya mengingatkan.
Jika dibedah lebih dalam, estimasi penderita hipertensi di Bumi Etam ini terdiri dari 180.265 laki-laki dan 191.052 perempuan. Namun, ada anomali menarik sekaligus mengkhawatirkan terkait kesadaran berobat.
Data Dinkes Kaltim menunjukkan bahwa kaum perempuan jauh lebih peduli terhadap kesehatan mereka. Capaian pelayanan kesehatan pada perempuan justru melampaui target, yakni mencapai 197.442 orang atau sekitar 103,3 persen.
Sebaliknya, masih banyak penderita hipertensi, terutama kelompok pria, yang belum terjangkau layanan medis secara optimal. Hal ini disinyalir terjadi karena minimnya kesadaran untuk rutin mengontrol tekanan darah.
”Penyebabnya bisa karena keterbatasan akses pelayanan, rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan tekanan darah, maupun kepatuhan minum obat yang belum baik,” kata Jaya.
Selain urusan kesadaran warga, pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan pemerataan fasilitas medis. Penanganan penyakit jantung akibat komplikasi hipertensi membutuhkan alat penunjang medis yang tidak murah dan canggih.
Hingga saat ini, dari 10 kabupaten dan kota yang ada di Kaltim, tinggal Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) yang belum memiliki fasilitas penunjang medis tersebut. Kondisi geografis dan status rumah sakit yang masih kelas D menjadi ganjalan utama.
Meski begitu, Diskes Kaltim bergerak cepat. Pemerintah menargetkan pemenuhan alat kesehatan penunjang jantung di wilayah perbatasan tersebut bisa rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2026.
”Mudah-mudahan akhir tahun ini pembangunan kelas C sudah serah terima di Mahulu. Jadi nanti 10 kabupaten dan kota sudah selesai, ada alat untuk pelayanan yang lebih lengkap,” tutur Jaya penuh optimisme. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















