KAWASAN pesisir Pantai Timur Kalimantan selama ini kerap dianggap aman dari lingkaran cincin api. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru membawa kabar buruk yang harus diwaspadai warga, khususnya yang menetap di sekitar Teluk Balikpapan.
Kondisi geografis Teluk Balikpapan yang menyerupai kantung sempit ternyata menyimpan bom waktu. Karakteristik teluk ini mampu melipatgandakan daya hancur gelombang tsunami, meskipun dari laut lepas gelombang tersebut awalnya tergolong kecil.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mengonfirmasi bahwa seluruh garis pantai timur mulai dari Tarakan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan memiliki potensi tsunami yang nyata.
”Bahkan potensinya tergolong besar,” ujar Rasmid saat membeberkan peta kerawanan wilayah tersebut.
Untuk wilayah Samarinda, Bontang, dan Balikpapan, ancaman terbesar bukan datang dari megathrust samudra, melainkan dari aktivitas gempa di jalur sesar Sulawesi. Selat Makassar memiliki kontur dasar laut yang sangat curam, membentuk jurang bawah laut yang dalam.
Rasmid menjelaskan, guncangan gempa di bagian barat Sulawesi bisa memicu longsoran tebing bawah laut dalam volume raksasa hingga ribuan meter kubik. Peristiwa ini mirip dengan tragedi mematikan di Palu pada 2018 dan gempa Mamuju.
Runtuhnya tebing bawah laut ini seketika mengganggu stabilitas air laut, lalu melontarkan gelombang tsunami yang menjalar cepat menuju pesisir Balikpapan.
Secara matematis, gelombang yang bergerak menyeberangi Selat Makassar mungkin hanya setinggi kurang dari satu meter saat mendekati daratan. Namun, cerita akan berubah drastis saat air laut masuk ke Teluk Balikpapan yang sempit.
Di dalam teluk, terjadi fenomena pemantulan dan penggabungan gelombang (superposisi). Ruang yang menyempit memaksa energi air menumpuk, membuat amplitudo atau ketinggian gelombang melonjak berkali-kali lipat dari ukuran aslinya.
”Hal inilah yang menjadi kekhawatiran kita bersama, khususnya untuk wilayah Teluk Balikpapan,” ungkap Rasmid dengan nada cemas.
Di tengah ancaman yang nyata ini, fakta di lapangan justru memprihatinkan. Sistem mitigasi bencana di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini ternyata masih menghadapi keterbatasan fatal.
Hingga hari ini, Balikpapan belum memiliki Early Warning System (EWS) atau sirine peringatan dini tsunami yang terintegrasi.
”Untuk di Balikpapan sendiri saat ini belum ada. Bahkan, di seluruh wilayah Kalimantan sebenarnya belum memiliki sistem peringatan dini tsunami yang terpadu,” aku Rasmid.
Akibat keterbatasan sarana ini, BMKG tidak bisa langsung mengirimkan sinyal bahaya ke ponsel warga pesisir atau membunyikan sirine evakuasi secara otomatis. Alur birokrasi masih bersifat manual: BMKG melapor ke BPBD, BPBD meneruskan ke pemerintah daerah, baru kemudian pemda mengabari warga. [RUL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















