ANGGAPAN bahwa Pulau Kalimantan merupakan wilayah yang sepenuhnya aman dari ancaman gempa bumi kini terpatahkan. Data terbaru menunjukkan aktivitas tektonik di pulau ini justru sedang menggeliat hebat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fakta mengejutkan. Aktivitas gempa di Kalimantan melonjak drastis hingga tiga kali lipat sejak 2021 jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, menyebutkan bahwa lonjakan ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Wilayah yang dulunya adem ayem, kini mulai sering diguncang getaran bawah tanah.
“Jadi di Kalimantan itu sejak tahun 2021 sampai sekarang aktivitas gempanya terjadi peningkatan yang signifikan. Sekitar mungkin tiga kali lipat. Yang biasanya puluhan, sekarang sudah ratusan,” ujar Rasmid, Selasa (16/6/2026).
Menurut catatan BMKG, sebelum 2020, aktivitas gempa di Kalimantan memang relatif landai. Namun, ketenangan itu rupanya menyimpan potensi bahaya yang tersembunyi.
Selama bertahun-tahun, batuan di bawah tanah Kalimantan diduga terus-menerus mengumpulkan energi tektonik. Tekanan besar dari arah barat, timur, hingga selatan terus menghimpit dan menumpuk di dalam perut bumi.
“Mungkin masa itu adalah masa pengumpulan energi. Jadi begitu ada stres atau desakan dari barat, dari timur, dan dari selatan, itu disimpan oleh batuan tersebut sampai akhirnya batuan ini tidak kuat lagi. Akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa,” jelas Rasmid.
Kini, proses pelepasan energi raksasa itu sedang berlangsung. Jika dahulu dalam setahun rata-rata hanya terjadi sekitar 40 kali gempa kecil, saat ini angkanya sudah melesat menyentuh 240 kejadian dalam setahun.
Berjejer Sesar Aktif dan Potensi Gempa M 7,0
Lonjakan aktivitas ini akhirnya membuka tabir keberadaan sumber-sumber gempa baru. Melalui pemantauan ketat dalam tiga tahun terakhir, BMKG berhasil memetakan sejumlah sesar aktif yang sebelumnya tidak teridentifikasi.
Untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) saja, ancaman nyata datang dari Sesar Sangkulirang dan Sesar Mangkalihat. Bergeser ke arah utara, ada Sesar Tarakan, Sesar Maratua, Sesar Tanjung Selor, hingga Sesar Karayan.
Ngerinya, sesar-sesar lokal ini memiliki panjang rata-rata mencapai 100 hingga 110 kilometer. Rasmid memperingatkan, jika patahan sepanjang itu bergerak secara serentak, dampaknya bisa sangat fatal.
“Kalau sepanjang itu bergerak secara barengan, maka potensi maksimumnya bisa 6,9 sampai 7. Itu potensinya,” tegas Rasmid.
Namun, jika hanya sebagian segmen sesar saja yang patah, kekuatan gempa yang dihasilkan umumnya berada di skala yang lebih kecil, yakni sekitar Magnitudo 4 hingga 5.
Melihat pergeseran alam yang kian agresif, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera bangun dari tidur nyenyak. Mitos lama bahwa Kalimantan adalah pulau yang kebal gempa harus segera dibuang jauh-jauh.
“Mindset yang dulu bahwa Kalimantan aman gempa atau silent gempa, sebenarnya tidak. Makanya dengan kondisi seperti ini, kita tahu potensinya, sumber gempanya di mana, panjang sesarnya berapa, nah seharusnya dimitigasi,” katanya.
Rasmid mengakui, kesiapan mitigasi bencana di Kalimantan masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Pulau Jawa atau Sumatera yang sudah lebih berpengalaman menghadapi bencana serupa.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan media harus segera dipacu. Mitigasi tidak boleh lagi sekadar sosialisasi di atas kertas.
Kesiapan fisik di lapangan kini menjadi harga mati. Kalimantan harus mulai membangun sistem peringatan dini, memasang sirene tsunami, memetakan jalur evakuasi, hingga membangun Tempat Evakuasi Akhir.
Lebih dari itu, aturan mengenai konstruksi bangunan juga sudah saatnya diperketat. Struktur bangunan di Kalimantan ke depan wajib mengadopsi sistem ramah gempa demi meminimalkan korban jiwa.
“Tidak kalah pentingnya adalah mitigasi terkait bangunannya yang juga harus ramah terhadap gempa,” ucap Rasmid. [RUL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















