MOMEN tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimanfaatkan Pemkot Bontang meluncurkan gerakan yang menyatukan nilai keagamaan, konservasi lingkungan, dan masa depan ekonomi pesisir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, Ahmad Aznem, menyerukan gerakan Hijrah Ekologis. Seruan tersebut dibarengi langkah konkret berupa penguatan kelompok konservasi pesisir KOMPAK Sumber Lamun Bersinar (SLB) serta percepatan pendirian Universitas Lamun Bontang.
Langkah ini menjadi bagian dari visi besar menjadikan Bontang sebagai pusat pengembangan ilmu kelautan berbasis ekosistem lamun yang memiliki nilai strategis bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat pesisir.
“Semangat hijrah 1 Muharram 1448 H ini kami tandai secara konkret dengan menetapkan KOMPAK Sumber Lamun Bersinar sebagai garda terdepan pelindung ekosistem pesisir. Lebih dari itu, hari ini kita mempercepat langkah mewujudkan Universitas Lamun yang telah kita canangkan,” ujar Ahmad Aznem dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Gagasan Universitas Lamun bukan muncul tiba-tiba. Fondasinya telah diletakkan sejak aksi penanaman lamun massal yang digelar 13 Juni 2025 di kawasan pesisir Bontang. Kini, gagasan tersebut memasuki tahap percepatan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, organisasi nelayan hingga kelompok masyarakat pesisir.
DKP3 Kota Bontang menggandeng Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Bontang, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Bontang, KOMPAK Sumber Lamun Bersinar, dan masyarakat pesisir dalam satu skema kolaborasi yang disebut sebagai orkestrasi pentahelix.
Menurut Ahmad Aznem, Bontang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat riset lamun tropis yang diperhitungkan di tingkat internasional. “Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Bontang harus memimpin pusat riset lamun tropis dunia,” tegasnya.
Dalam konsep yang disusun DKP3, Universitas Lamun akan berfungsi sebagai pusat penelitian kelautan yang melibatkan pelajar, guru, mahasiswa hingga akademisi tingkat lanjut.
Sejumlah fokus penelitian telah disiapkan, mulai dari kajian karbon biru (blue carbon), pemulihan populasi ikan karang, perilaku dugong, hingga penelitian kualitas air dan pencemaran mikroplastik.
Kajian blue carbon menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus. Padang lamun diketahui memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar sehingga berpotensi mendukung ekonomi hijau dan ekonomi biru di masa depan.
Selain itu, riset mengenai dugong atau duyung juga dianggap penting karena mamalia laut tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan padang lamun.
Tak hanya melayani kebutuhan riset dalam negeri, Universitas Lamun juga dirancang membuka peluang kerja sama internasional. Kampus ini nantinya diharapkan memiliki stasiun riset lapangan yang dapat digunakan ilmuwan dari berbagai negara untuk melakukan studi ekosistem lamun tropis di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam proyek besar ini, ICMI Kota Bontang mendapat peran strategis sebagai pengawal intelektual.
Organisasi tersebut akan menghimpun para akademisi dan cendekiawan untuk memastikan pengembangan Universitas Lamun berjalan berdasarkan landasan ilmiah yang kuat sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai etika dan keberlanjutan.

Ahmad Aznem menyebut keberadaan ICMI penting agar kampus yang dibangun tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
Menurutnya, pembangunan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keseimbangan alam.
Di balik rencana besar Universitas Lamun, perhatian terhadap kehidupan nelayan tetap menjadi fokus utama. Melalui sinergi bersama HNSI dan KOMPAK SLB, masyarakat pesisir didorong bertransformasi menjadi pengelola ekosistem sekaligus pelaku usaha maritim yang mandiri.
HNSI akan berperan dalam penguatan ekonomi nelayan, termasuk membuka peluang akses pasar yang lebih luas dan mendukung pengembangan usaha berbasis sumber daya laut yang berkelanjutan.
Sementara KOMPAK Sumber Lamun Bersinar mendapat mandat sebagai garda terdepan konservasi pesisir, termasuk mengawal penerapan prinsip lingkungan seperti kawasan bebas sampah plastik dan bebas pencemaran minyak.
Target akhirnya bukan hanya menjaga laut tetap sehat, tetapi juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
Melalui gerakan Hijrah Ekologis, dia ingin menghadirkan model pembangunan yang menghubungkan sains, konservasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi antara DKP3, ICMI, HNSI, KOMPAK SLB, dan masyarakat pesisir diyakini menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap ekosistem laut, Bontang mencoba mengambil langkah berbeda: membangun masa depan dari hamparan padang lamun yang selama ini kerap luput dari perhatian.
“Hijrah ekologis telah kita mulai. Dengan sains, iman, dan kerja sama, insyaallah laut sehat, nelayan makmur, dan berkah melimpah,” tutup Ahmad Aznem. [RIL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















