IKATAN Pelajar Muhammadiyah Kalimantan Timur alias IPM Kaltim diingatkan untuk tidak tinggal diam di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kader muda Muhammadiyah ini didorong untuk mengambil peran aktif agar tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua IKA Alumni IPM Kaltim, Ahmad Aznem saat berbicara dalam Talkshow Musyawarah Wilayah (Musywil) IPM Kaltim di Sangatta, Kutai Timur (Kutim), Jumat (12/6/2026).
Di hadapan ratusan kader dan alumni, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang ini menyebut tanah Borneo saat ini sedang berdiri di persimpangan sejarah.
Sebagai birokrat yang paham betul kondisi lapangan, Ahmad Aznem memetakan tiga masalah krusial yang saling berkaitan di daerahnya. Ia mengistilahkannya sebagai “Trio Tantangan Kaltim”.
Pertama adalah krisis ekologis yang lahir dari sisa-sisa ekonomi ekstraktif masa lalu. Kedua, krisis sosial berupa angka pengangguran terbuka yang masih tinggi—sebuah ironi di tengah kekayaan alam Kaltim yang melimpah.
Tantangan ketiga adalah percepatan kualitas sumber daya manusia (human capital) demi mengejar ketertinggalan dari laju pembangunan IKN yang sangat cepat.
“Geliat IKN adalah dinamika kemajuan yang luar biasa pesat. Namun ingat, jika kita lambat merespons atau kualitas kita tidak nyambung (mismatch) dengan kebutuhan zaman, kita hanya akan berakhir sebagai pelengkap penderita,” ujar Aznem berapi-api, disambut gemuruh tepuk tangan peserta.
Meski tantangan yang dihadapi tergolong berat, penerima Penghargaan Tokoh Pemuda Kaltim tahun 2023 ini tetap optimistis. Ia menilai IPM memiliki modal intelektual dan manajemen organisasi yang matang untuk memenangkan persaingan.
Apalagi, jaringan alumni IPM kini sudah tersebar luas di berbagai lini strategis, mulai dari birokrasi, politik, hingga sektor ekonomi.
Melihat momentum tersebut, Aznem secara resmi mendeklarasikan sebuah manifesto gerakan yang ia beri nama “IPM Memanggil!”.
“Ini bukan sekadar jargon kosong. Ini panggilan kesadaran bagi pengurus aktif, kader militan di sekolah, hingga para alumni untuk bergerak serentak. Saatnya IPM memimpin arus perubahan, bukan justru hanyut terbawa arus,” tegasnya.
Melalui Musywil di Kutim ini, Aznem berharap lahir cetak biru yang mampu mencetak kader pemikir sekaligus pekerja unggul untuk menyongsong masa depan Nusantara.
“Selamat bermusyawarah. Pena kita adalah senjata, gagasan kita adalah arah bangsa,” tegas Aznem. [RIL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















