DETAK jantung yang sehat adalah impian setiap manusia. Namun bagi ribuan warga di wilayah pesisir Kalimantan Timur (Kaltim), perjuangan untuk menjaga detak itu tetap berhulu pada sebuah perjalanan panjang menembus batas kota.
​Sejak menjalin kemitraan dengan BPJS Kesehatan pada 2023, RSUD Taman Husada Bontang mencatat lonjakan dramatis. Sebanyak 1.200 pasien tercatat datang berobat untuk mendapatkan layanan jantung intervensi non-bedah.
​Di balik ribuan data tersebut, ada wajah-wajah cemas para ayah, ibu, dan anak yang menggantungkan harapan kesembuhan mereka pada fasilitas medis di Kota Taman ini.
​Penyakit kardiovaskular tidak mengenal alamat. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa ket ketimpangan fasilitas medis membuat warga dari luar daerah harus menempuh perjalanan berjam-jam demi menyelamatkan nyawa.
​Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, mengungkapkan bahwa pasien yang memanfaatkan fasilitas cath lab di rumah sakitnya justru didominasi warga dari luar daerah. Mereka datang dari wilayah penyangga yang minim fasilitas serupa.
​”Kalau dilihat dari wilayahnya, pasien yang kami tangani banyak juga yang berasal dari wilayah luar Bontang, termasuk dari Sangatta dan Kutai Kartanegara,” ujar dr. Suhardi.
​Tingginya ketergantungan masyarakat luar daerah ini menjadi alarm. Akses kesehatan yang mumpuni di Kaltim masih belum merata, terutama untuk penanganan darurat penyakit jantung yang berkejaran dengan waktu.
​Melihat kondisi ini, pihak manajemen RSUD Taman Husada tidak menutup mata atau sekadar berbangga diri. dr. Suhardi justru mendorong penuh agar daerah tetangga segera mengembangkan layanan intervensi jantung serupa.
​Langkah ini dirasa mendesak agar beban pasien tidak menumpuk di satu titik, sekaligus memangkas waktu tempuh pasien yang kritis. Kehadiran fasilitas serupa di wilayah lain akan sangat membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa.
​”Kalau nanti pelayanan intervensi non-bedah ini ada di Sangatta, ya harapannya masyarakat bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan jantung lebih baik lagi,” tuturnya dengan nada optimis.
​Sebagai rumah sakit rujukan yang mengoperasikan fasilitas cath lab sejak 2019, RSUD Taman Husada terus meningkatkan kapasitasnya. Manajemen aktif membangun sistem jejaring antar-rumah sakit untuk memperlancar sistem rujukan.
​Sistem jejaring ini tidak hanya mempermudah urusan administrasi rujukan pasien. Kerja sama ini juga menjadi wadah bagi para tenaga kesehatan lokal untuk terus mengasah kemampuan medis mereka secara berkala.
​”Kemampuan atau kapasitas secara SDM itu bisa terus ter-update. Banyak sekali yang kami dapatkan bagi rumah sakit kita, dan bagi masyarakat tentu akan lebih baik lagi,” jelas dr. Suhardi.
​Tidak berhenti pada penanganan jantung, komitmen pelayanan komprehensif terus dipacu melalui program KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi). Kehadiran program ini membawa angin segar bagi penanganan penyakit kritis di Kaltim.
​Warga kini bisa mengakses layanan kemoterapi kanker, penanganan urologi dari dokter spesialis Kementerian Kesehatan, hingga layanan terintegrasi untuk ibu dan anak. RSUD Bontang kini menjadi benteng harapan baru bagi kesehatan masyarakat pesisir. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















