UPAYA memperkuat layanan kesehatan jantung di Kalimantan Timur (Kaltim) terus dipercepat. Pemerintah Provinsi Kaltim bersama pemerintah kabupaten dan kota mulai membangun jejaring pelayanan yang lebih terintegrasi agar pasien penyakit jantung bisa mendapatkan penanganan lebih cepat tanpa harus jauh-jauh dirujuk ke luar daerah.
Langkah itu menjadi bagian dari target nasional pembentukan 400 jejaring penanganan penyakit kardiovaskular di Indonesia dalam lima tahun ke depan. Bagi masyarakat, program ini bukan sekadar urusan fasilitas rumah sakit, tetapi menyangkut peluang hidup yang lebih besar saat kondisi darurat terjadi.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita bersama 12 direktur rumah sakit daerah di Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin, mengatakan hampir seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini telah memiliki fasilitas pelayanan penyakit jantung yang cukup memadai.
“Ini sebagian dari program pemerintah untuk melakukan pemerataan di bidang kesehatan. Dengan kerja sama ini, rumah sakit di Kaltim dapat melakukan pelayanan jantung dengan lebih baik,” ujarnya usai penandatanganan kerja sama di Kantor Bupati Kutai Timur, Jumat (19/6/2026).
Dari 10 kabupaten dan kota di Kaltim, hanya Kabupaten Mahakam Ulu yang belum bergabung dalam jejaring layanan kardiovaskular tersebut.
Menurut Jaya, kondisi itu terjadi karena rumah sakit daerah di Mahulu masih berstatus kelas D dan sedang dalam proses peningkatan kapasitas.
“Kami menargetkan akhir tahun ini pembangunan fisik untuk naik ke kelas C bisa selesai serah terimanya. Jika sudah, maka 10 kabupaten/kota di Kaltim dipastikan 100 persen siap melayani pasien kardiovaskular,” katanya.
Target itu menjadi penting mengingat penyakit jantung dan hipertensi masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan yang membutuhkan penanganan cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyambut penguatan jejaring layanan jantung tersebut. Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap layanan penyakit jantung terus meningkat sehingga rumah sakit daerah harus mampu memberikan pelayanan yang lebih lengkap.
“Ini merupakan layanan yang memang sangat dibutuhkan masyarakat. Pemerintah memberikan perhatian besar pada penyakit seperti ini, sehingga rumah sakit akan terus dipenuhi kelengkapan fasilitasnya,” ujar Ardiansyah.
Meski sarana kesehatan terus ditingkatkan, ia menilai tantangan terbesar saat ini masih berada pada ketersediaan tenaga medis spesialis.
Saat ini Kutai Timur baru memiliki dua dokter spesialis jantung. Jumlah itu dinilai belum ideal untuk melayani kebutuhan masyarakat di wilayah yang luas dan terus berkembang.
Karena itu, pemerintah daerah menargetkan penambahan dokter spesialis jantung dalam waktu mendatang.
“Hari ini kita baru memiliki dua orang dokter spesialis jantung. Ke depan, targetnya akan kita tingkatkan menjadi tiga orang dokter spesialis untuk memaksimalkan pelayanan tindakan,” tegasnya. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














