KASUS kekerasan seksual alias rudapaksa terhadap anak di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), menyeruak dengan temuan empat korban dari tiga laporan polisi yang kini ditangani aparat. Di tengah proses hukum yang berjalan, perhatian beralih pada dampak trauma yang berpotensi membekas lama pada para korban.
Sekretaris Komisi A DPRD Bontang, Saeful Rizal, menilai langkah cepat aparat dalam menangani kasus ini sudah tepat. Namun, ia mengingatkan bahwa penanganan tidak boleh berhenti pada aspek hukum semata.
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penanganan kasus ini dan berharap bisa segera diselesaikan secara tuntas,” ujar Saeful kepada Pranala.co, Kamis (30/4/2026).
Menurut dia, yang tak kalah mendesak adalah memastikan para korban mendapat pendampingan menyeluruh, terutama dari sisi psikologis. Anak-anak, kata Saeful, berada dalam kondisi rentan yang bisa mengalami trauma berkepanjangan jika tidak ditangani serius.
“Anak-anak ini harus didampingi secara fisik dan psikis agar bisa pulih dari traumanya. Karena ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan dalam waktu yang lama, terutama trauma psikologis,” jelasnya.
Ia menekankan, pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan. Pendampingan harus berjalan rutin dan berkelanjutan agar anak-anak benar-benar pulih dan dapat kembali menjalani kehidupan normal.
“Kalau tanpa pendampingan yang menyeluruh dan terus-menerus, dampaknya bisa berkepanjangan bagi anak-anak,” tambahnya.
Di sisi lain, kepolisian masih mendalami kasus tersebut. Pelaksana Tugas Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Mohammad Yazid, menyebutkan penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap peristiwa secara utuh.
“Laporan polisi yang masuk ada tiga, tapi korbannya empat orang. Saat ini semuanya sudah ditangani di Polres,” ujarnya. [ADS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















