GERAKAN memburu stunting di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) mencetak rekor baru yang terbilang langka. Selama lima hari penuh, 9 hingga 13 Juni 2026, petugas medis dan kader posyandu bergerak serentak. Hasilnya, tingkat kehadiran balita dalam operasi timbang massal mencapai 100 persen tanpa cela.
Sebanyak 9.824 balita yang tersebar di berbagai sudut kota berhasil dijangkau. Tidak ada satu pun anak yang terlewat dari timbangan dan alat ukur petugas.
Capaian sempurna ini jelas tidak datang begitu saja. Ada cerita perjuangan para kader posyandu, ketua RT, lurah, hingga petugas puskesmas di lapangan.
Mereka tidak sekadar duduk manis menunggu warga datang ke posyandu. Sadar bahwa kesibukan orang tua beragam, petugas memilih strategi jemput bola.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati, membeberkan rahasia di balik suksesnya gerakan ini. Petugas rela menyisir permukiman dan mengetuk pintu rumah warga satu per satu.
Bahkan, bagi orangtua yang bekerja siang hari, layanan timbang tetap dibuka hingga malam hari. Langkah ini diambil demi memastikan hak kesehatan setiap anak terpenuhi.
“Semua balita hadir. Ini hasil kerja bersama. Petugas benar-benar memastikan tidak ada anak yang terlewat,” ujar Toetoek dengan nada bangga.
Langkah verifikasi ulang ini menjadi kunci penting. Tujuannya, agar intervensi bantuan dan penanganan gizi dari pemerintah nantinya bisa benar-benar tepat sasaran.
Proses pengolahan data ribuan balita ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada 30 Juni 2026. Lewat hasil akhir tersebut, Bontang akan memiliki peta komprehensif mengenai kondisi riil anak-anak mereka.
Data itu tidak hanya memuat angka stunting. Kondisi balita yang mengalami wasting (kurus), underweight (berat badan kurang), hingga gangguan pertumbuhan lainnya akan terlihat jelas.
Toetoek mengingatkan masyarakat bahwa urusan stunting bukan perkara sederhana tentang anak kurang makan. Ada rantai masalah sosial yang jauh lebih kompleks di belakangnya.
Mulai dari riwayat infeksi yang berulang pada anak, kualitas lingkungan tempat tinggal, hingga urusan sanitasi serta akses air bersih di dalam keluarga.
“Penanganannya tidak bisa hanya dari sisi gizi. Lingkungan dan pola hidup juga harus diperbaiki. Bahkan jika diperlukan, anak bisa dirujuk ke dokter spesialis,” pungkas Toetoek.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyambut pencapaian ini dengan rasa syukur yang mendalam. Berdasarkan peta pemantauan awal, tanda-tanda penurunan angka kasus stunting di Bontang mulai terlihat nyata.
Neni mengungkapkan, beberapa wilayah di Bontang bahkan sudah menunjukkan angka indikasi stunting yang menggembirakan.
“Alhamdulillah capaian kita sudah 100 persen. Ada yang sudah satu digit, ada juga yang belum. Mudah-mudahan semuanya bisa ditekan di bawah 10 persen,” kata Neni saat ditemui di sela kegiatannya.
Namun, Neni memilih untuk tetap membumi dan tidak mau terburu-buru merayakan keadaan. Ia mengingatkan jajarannya agar tidak gegabah mengambil kesimpulan.
Apalagi, kemampuan dan pelatihan yang diterima setiap kader posyandu di lapangan belum sepenuhnya merata. Validasi data yang presisi mutlak diperlukan.
“Yang terindikasi nanti akan diukur ulang oleh Dinas Kesehatan. Jadi dipastikan dulu apakah benar stunting atau tidak,” tegas Neni. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















