Ramai, Dokter di Manado Sogok Keluarga Pasien Berstatus PDP Covid-19, Ini Faktanya

  • Whatsapp
Tangkapan layar video demo kerabat pasien yang sempat viral.

RAMAI informasi yang mengklaim dokter di rumah sakit Manado menyogok keluarga pasien agar setuju meninggal karena virus corona baru (Covid-19). Informasi itu diunggah akun Facebook Reza Abdullah, disertai dengan foto dan video. Berikut keterangan unggahan tersebut:

“Kejadian di Manado Tadi siang Ada orang yang meninggal Karena Penyakit jantung Tetapi dokter memberikan uang kepada keluarga (menyogok) agar Di beritakan bahwasanya Pasien tersebut meninggal Karena covid 19 Keluarga tidak Terima Alhasil seluruh keluarga beserta rekan rekan nya mengambil jenazah secara paksa. Waw Ada apa dengan indonesiaku.”

Bacaan Lainnya

Unggahan pada 2 Juni 2020 tersebut telah memperoleh 15 komentar dan 305 kali dibagikan.

Melansir Manadopost.id, awalnya satu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) warga Kecamatan Singkil, meninggal dunia di Ruang ICU Isolasi RSU Pancaran Kasih GMIM Manado, Senin (1/6) sekira pukul 13.30 Wita.

Pasien yang masuk rumah sakit (RS) sejak 26 Mei lalu itu, diketahui masuk kategori PDP lantaran didiagnosa mengalami Pneumonia dan kehilangan kesadaran.

Informasi dirangkum, sampai pukul 15.00 Wita, pihak keluarga pasien tidak setuju jenazah dilakukan penanganan dengan protokol Covid-19. Video penolakan warga tersebut kemudian viral di media sosial.

Dalam video tersebut, anak pasien menerangkan bahwa pada saat selesai memandikan jenazah ayahnya, pihak RS dalam hal ini dokter yang menangani memberikan uang kepadanya agar jenazah tidak lagi dibawa ke rumah dan langsung dibawa ke lokasi pemakaman dan dimakamkan sesuai prosedur Covid-19.

Mendengar penjelasan anak pasien tersebut, keluarga beserta massa menerobos ruang jenazah.
Pihak keluarga bersama masyarakat kemudian membawa jenazah dan langsung menuju rumah duka menggunakan ambulance.

Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara Sulut (Sulut) Steaven Dandel mengatakan, pasien tersebut berstatus PDP. Dia menerangkan, keluarga pasien tidak mau dimakamkan tatacara Covid-19 dan membawa lari jenazah dari RSPK.

“Jadi petugas medis dan keamanan terkurung di dalam RS. Tindakan tim medis mempertahankan status PDP. Tapi kalau sudah ada dalam situasi yang mengancam jiwa, prioritas utama adalah keselamatan diri. Kasus ini bisa dibawa ke ranah hukum oleh RS. Karena sudah ada perusakan fasilitas,” jelasnya.

Dandel menambahkan dari provinsi memiliki tim pendamping psikologis untuk masalah seperti ini. Tapi ungkapnya, situasi di lokasi pada waktu itu, tidak bisa dilakukan tindakan apapun. “Bahkan tokoh agama yg dilibatkan juga dikurung di dalam RS. Situasi tidak terkendali. Karena jumlah massa sangat banyak,” katanya.

Dandel menanggapi terkait isu pemberian uang dalam kasus tesebut. Menurutnya dalam SOP tidak ada kebijakan pemberian uang kepada keluarga. “Yang saya tangkap di dalam status dokter Suyanto disebutkan uang diserahkan kepada imam yang dipanggil pihak RS untuk memandikan dan mensholatkan jenazah. Bukan kepada keluarga. Nanti kami minta Direktur RS memberikan keterangan secara resmi kepada masyarakat dan media. Supaya tidak ada simpang siur seperti ini,” tuturnya. (*)

Pos terkait