BI Kaltim Dorong Pembayaran Non-Tunai selama Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Ilustrasi digital.

SEIRING pandemi COVID-19 transaksi non-tunai meningkat. Penggunaan pembayaran non-tunai menjadi salah satu opsi bagi masyarakat saat terjadi penyebaran virus pandemi seperti sekarang ini.
Selain faktor kepraktisan dan kenyamanan, transaksi melalui alat pembayaran non-tunai dipercaya dapat meminimalkan kontak dengan uang kertas yang telah berpindah-pindah tangan dan tidak diketahui kebersihannya.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono menjelaskan era pandemi Covid-19 ini pihaknya mendorong masyarakat beralih menggunakan cara-cara pembayaran nontunai yang saat ini sudah semakin mudah dan murah.

Bacaan Lainnya

“Berbagai kebijakan dan insentif BI terus diberikan agar semakin memudahkan masyarakat beralih ke pembayaran nontunai,” jelasnya, Minggu (31/5).

Menurutnya, berbagai kebijakan dan insentif tersebut membebaskan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS menjadi 0 persen yang berlaku sampai dengan September 2020. Selain itu juga dikembangkan fitur QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM) atau tanpa kontak tangan dalam melakukan pembayaran (contact less payment).

“Kita juga menurunkan biaya Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) menjadi Rp 1,” ungkapnya.

Lalu, pihaknya juga melonggarkan kebijakan kartu kredit seperti penurunan batas maksimum suku bunga menjadi 2 persen, pembayaran minimum menjadi 5 persen, dan denda keterlambatan menjadi 3 persen. Berbagai kebijakan itu diharapkan bisa meningkatkan penggunaan nontunai pada transaksi masyarakat saat pandemi.

Setali tiga uang. Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta bilang, pandemi ini membuat sejumlah sektor beralih ke transaksi elektronik menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard ( QRIS) mulai dari tempat ibadah hingga pasar tradisional.

“Dulu susah menawarkan QRIS ke rumah-rumah ibadah. Tapi mereka sekarang akhirnya mengejar untuk meminta jadi merchant QRIS. Pasar tradisional juga mulai pakai QRIS, karena memang kondisinya membuat begitu,” kata Filianingsih Hendarta dalam konferensi video

Fili menuturkan, indikasi terlihat dari penurunan outflow 5,2 persen sepanjang 2020 (ytd) maupun inflow yang turun 1,7 persen (ytd). Di sisi lain, transaksi melalui e-commerce meningkat 18,1 persen menjadi 98,3 juta transaksi. Total nilai transaksi meningkat 9,9 persen menjadi Rp 20,7 triliun.

Peningkatan terbesar terjadi pada kebutuhan primer, seperti makanan, perlengkapan sekolah, dan alat kesehatan. Sementara itu, interkoneksi transaksi QRIS di merchant meningkat mencapai 2,2 juta transaksi selama Maret 2020 dengan total nominal mencapai Rp 75,1 miliar atau rerata Rp 34.177 per transaksi.

Secara volume, transaksi off net naik 130 persen dari Februari 2020. Uniknya, transaksi tunai di EDC yang bersifat face to face tak pelak mengalami penurunan. Pada Maret, pertumbuhan transaksi EDC minus 20,7 persen dengan nilai Rp 231 miliar. (*)

Pos terkait