PPKM Bisa Merusak Ekonomi Pasar? Begini Kata Ekonom Kaltim

Razia penerapan PPKM hari pertama dilakukan Pemkot Balikpapan bersama TNI/Polri dibantu Satpol PP pada Jumat (15/1/2021) malam. [Suara.com/Tuntun Siallagan]

PEMBERLAKUKAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah kota/kabupaten Kalimantan Timur dinilai belum efektif. Maklum saja, walaupun beleid itu diterapkan tetap saja kasus virus corona atau COVID-19 melonjak tajam.

“PPKM ini akan efektif kalau semua mengikuti semua aturan. Jika tak ada yang ikut, ya, enggak ada perubahan apa-apa,” ujar Chairil Anwar, pengamat ekonomi Universitas Mulawarman saat dikonfirmasi pada Selasa (2/2) siang.

Hingga kini akumulasi positif COVID-19 di Kaltim sudah mencapai 41.578 atau 1117,3 kasus per 100 ribu penduduk. Dengan positif rate sebesar 20,7 persen. Total pasien sembuh mencapai 32.911 atau 79,2 persen dari akumulasi kasus positif. Dan kematian 1010 atau 2,4 persen. Menyisakan 7.657 kasus berstatus aktif atau masih dalam perawatan maupun isolasi mandiri.

Meski demikian, menurut Cody, sapaan karibnya, deretan angka ini perlahan-lahan tak buat masyarakat waswas. Kondisi ini begitu berbeda ketika corona kali pertama mewabah di Benua Etam pada awal Maret 2020.

“Saya kira siapa pun, pasti sudah lelah banget dengan virus corona. Hampir setahun mewabah. Rasa khawatir (psikologis) ini yang bikin capek,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menerangkan, hingga kini dirinya belum bisa menganalisis secara menyeluruh. Apakah penerapan PPKM ini bikin ekonomi mikro jeblok atau tidak. Pasalnya beleid ini baru saja berlaku. Beda cerita jika berbulan-bulan diterapkan, pasti akan sangat terlihat dampaknya.

Namun lain cerita dengan ekonomi mikro. Masyarakat menengah atas lazimnya akan menunda semua pembelian karena pandemik ini. Misalnya saja otomotif yang begitu terdampak karena pandemik ini.

“Warga yang bisanya membeli mobil sebagai pilihan gaya hidup akan menunda hal tersebut. Tapi sektor yang berada di bawahnya perlahan-lahan mulai naik. Coba perhatikan warung kopi makin menjamur,” sebutnya.

Dia menambahkan, yang patut diperhatikan pemerintah saat ini adalah satgas yang berhadapan langsung dengan corona. Warga saja lelah dengan virus ini, apalagi mereka yang selalu bersentuhan dengan COVID-19. Karenanya, apresiasi wajib diberikan kepada tenaga medis, tenaga kesehatan, TNI, Polri, penggali kubur COVID-19 hingga pengantar jenazah ke liang lahat.

“Tak mudah lho. Hampir setahun kegiatan mereka itu-itu saja. Ingat, ekonomi perlahan-lahan berjalan karena mereka juga,” pungkasnya.

 

 

 

[jun]

More Stories
INFOGRAFIS: Larangan Mudik di Tengah Pandemi