Pranala.co, BONTANG – Niat Irwan hanya satu: mencari rezeki tambahan sebagai ojek online (Ojol). Tapi belum genap seminggu menarik orderan, ia sudah harus menelan pil pahit. Uang Rp300 ribu miliknya raib ditipu orderan fiktif.
“Apes saya, 300 ribu hilang. Karena orderan fiktif,” keluh Irwan saat ditemui, Minggu (13/7/2025).
Kejadiannya bermula dari satu orderan menggiurkan di aplikasi ojek online. Irwan, yang baru dua hari bergabung sebagai mitra ojol, melihat upah pengantaran mencapai Rp 50 ribu—lima kali lipat dari biasanya.
“Biasanya paling Rp 10 ribu. Karena tinggi, saya ambil orderannya,” katanya.
Tanpa curiga, ia langsung membelikan pesanan yang diminta: popok bayi ukuran besar, rokok, roti, dan air mineral. Tapi belum juga sampai di alamat tujuan, pelaku kembali menghubunginya.
“Pelaku minta saya belikan top-up DANA. Waktu itu mulai curiga, tapi karena masih baru, saya layani saja,” ujarnya.
Ternyata, kecurigaan Irwan terbukti. Saat sampai di titik pengantaran, nomor pemesan tak lagi bisa dihubungi. Chat di aplikasi dan pesan WhatsApp tak mendapat balasan. Saat bertanya ke warga sekitar, tak ada satu pun yang mengenal nama pemesan.
Mirhan Nyaris Jadi Korban
Kejadian serupa juga menimpa Mirhan, ojol lainnya. Ia mendapat pesanan susu formula dan obat penurun panas. Upah pengantaran juga lebih besar dari normal.
“Pas saya belikan, pelaku minta tolong dibelikan top-up dana juga. Tapi saya curiga dan nggak saya belikan. Apalagi uangnya nggak ada,” jelasnya.
Karena permintaan tak dipenuhi, pelaku langsung memutus sambungan telepon. Saat barang diantar ke lokasi, lagi-lagi tidak ada yang bisa dikonfirmasi. Nomor pelaku hilang.
“Teman bilang saya kena order fiktif. Untung saya belum top-up,” ungkapnya.
Meski tak sampai merugi seperti Irwan, Mirhan tetap merasa kehilangan waktu, tenaga, dan pulsa aplikasi. Sebab biaya operasional tetap dipotong oleh sistem.
Bingung Mau Lapor ke Mana
Baik Irwan maupun Mirhan sama-sama tidak melaporkan kasus ini. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.
“Repot mas ngurusnya. Kami juga masih baru di profesi ini,” kata Irwan.
Meski begitu, mereka berharap para pelaku segera bertobat dan tidak mengulang aksi serupa ke pengemudi lain.














