Pranala.co, BONTANG – Order fiktif kembali memakan korban. Di tengah usaha mencari nafkah, para pengemudi ojek online (ojol) di Kota Bontang justru makin sering dijebak oleh pemesan palsu. Modusnya makin bervariasi, bahkan kini menyasar layanan penumpang.
Rizal, seorang driver ojol yang sudah lebih dari setahun beroperasi, mengungkap bahwa hampir setiap hari muncul orderan yang dicurigai fiktif. Ciri-cirinya pun makin mudah dikenali.
“Rata-rata, upahnya ditawarkan lebih tinggi. Biasanya cuma Rp8 ribu sampai Rp10 ribu, tapi ini bisa lebih dari Rp20 ribu,” ucap Rizal saat ditemui, Minggu (13/7/2025).
Di balik tawaran menggiurkan itu, tersimpan permintaan mencurigakan: pengemudi diminta membeli barang terlebih dulu, mulai dari obat-obatan, pakaian, susu formula, hingga makanan. Bahkan, setelah itu pelaku biasanya meminta top-up dana elektronik ke paylater.
Tak berhenti di layanan antar barang, kini para pelaku juga menyasar orderan penumpang. Mereka memesan jasa antar, tapi tak muncul di titik jemput. Sebaliknya, si pemesan justru menghubungi driver dan meminta dibelikan sejumlah barang.
“Modusnya seperti itu. Setelah belikan barang, pasti diminta transfer ke paylater. Ujung-ujungnya rugi,” jelas Rizal.
Driver Baru jadi Sasaran Empuk
Rizal berharap pengemudi baru lebih berhati-hati dalam menerima order. Menurutnya, edukasi soal order fiktif penting diberikan sejak awal.
“Paling tidak sebelum mulai onbit (terima order), pelajari dulu lewat teman-teman yang sudah pengalaman, atau cari referensi di YouTube. Jangan asal ambil order,” pesannya.
Minim Tindakan dari Aplikasi
Keluhan juga datang dari FH, driver ojol lainnya. Ia menilai, penyedia aplikasi belum menunjukkan sikap tegas terhadap pola penipuan yang sudah berulang ini.
“Modusnya itu-itu saja. Bahkan alamat pengantaran juga sering sama. Tapi kok masih terus muncul di sistem,” ucapnya.
FH berharap pihak aplikasi bisa lebih proaktif menyaring orderan mencurigakan, terutama yang menggunakan pola sama dan telah berkali-kali dipermasalahkan driver.
“Kalau ada laporan orderan fiktif, ya harusnya langsung diblok atau dibatalkan. Jangan nunggu korban berikutnya. Apalagi yang baru mulai ojol, mereka pasti nggak tahu,” tambahnya.
Para pengemudi kini mengandalkan solidaritas antar-sesama untuk saling mengingatkan. Grup percakapan daring hingga komunitas lokal menjadi tempat berbagi info soal titik rawan order fiktif dan nomor-nomor mencurigakan.
Namun bagi Rizal dan FH, solusi utama tetap ada di tangan perusahaan penyedia aplikasi.
“Mereka yang punya sistem. Kalau mereka mau, pasti bisa mencegah ini sejak awal,” pungkas Rizal.















