KAWASAN Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur (Kutim), tak lagi sekadar megaproyek di atas kertas. Kawasan industri pesisir ini mulai membuktikan daya tariknya setelah kucuran investasi bernilai fantastis resmi mengalir.
Tak tanggung-tanggung, komitmen modal senilai lebih dari Rp10 triliun kini sudah mengunci posisi di lapangan. Bahkan, potensi nilai itu berpeluang melonjak hingga Rp35 triliun seiring masuknya penjajakan proyek raksasa baru di sektor hilirisasi energi.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, mengungkapkan dua perusahaan perintis sudah memantapkan langkah di KEK Maloy. Keduanya yakni PT Palma Serasi Internasional (PSI) dan PT Prima Nusantara Indosentosa (PNI).
"Satu bergerak di bidang bulking station, sedangkan yang kedua di bidang logistik," ujar Novian saat ditemui di Sangatta, Senin (20/7/2026).
Langkah PT Palma Serasi Internasional diproyeksikan menjadi angin segar bagi rantai pasok industri sawit daerah. Perusahaan ini menggarap fasilitas terminal tangki timbun (bulking station) khusus menampung crude palm oil (CPO) dan produk turunannya sebelum meluncur ke pasar domestik maupun ekspor.
Di sisi lain, PT Prima Nusantara Indosentosa memperkuat fondasi kawasan melalui pembangunan jaringan pergudangan modern. Kehadiran infrastruktur pergudangan ini menjadi tulang punggung bagi kelancaran lalu lintas barang di dalam area KEK MBTK.
"Nilai investasinya kisaran di atas Rp10 triliun," kata Novian menegaskan akumulasi komitmen dari kedua entitas tersebut.
Incar Proyek Gasifikasi Batu Bara Rp25 Triliun
Daya pikat KEK Maloy rupanya tak berhenti di komoditas kelapa sawit. Karpet merah kawasan ini kini dilirik oleh investor kakap yang membidik teknologi pemrosesan batu bara berkalori rendah (low calorie coal) menjadi gas sintesis (gasification).
Proyek hilirisasi yang sejalan dengan agenda transisi energi bersih ini ditaksir bernilai jumbo, menembus angka Rp25 triliun.
"Terbaru di KEK MBTK, ada investor yang tertarik untuk menanamkan investasi di bidang pengolahan batu bara melalui teknologi gasifikasi," ungkap Novian.
Kendati nilainya menggiurkan, pemerintah daerah memilih bertindak rasional dan terukur. Novian menekankan, proyek energi senilai puluhan triliun ini masih berada di fase pembuka.
"Sekarang masih masa penjajakan. Mereka masih akan turun ke lapangan untuk melihat kondisi dan melakukan kajian," tuturnya.
Pemkab Kutim memilih tak terburu-buru mengumbar klaim sebelum studi kelayakan resmi rampung. DPMPTSP berjanji akan menyampaikan keterbukaan informasi begitu hasil survei teknis dan kajian bisnis di lapangan menunjukkan kepastian. (*)















