LPG 3 Kg Sering Langka di Samarinda, Pemkot: Ingat, Hanya untuk Warga Miskin!

  • Whatsapp

PRANALA.co – Penggunaan tabung gas melon alias 3 kilogram di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai tidak tepat sasaran. Tabung gas subsidi yang semestinya hanya bagi sektor rumah tangga miskin, namun juga dinikmati industri kecil hingga menengah.

Menurut Asisten II Sekretariat Kota Samarinda Nina Endang Rahayu, hampir seluruh kelompok masyarakat Samarinda mempergunakan gas subsidi ini. Hal ini berdampak kelangkaan pasokan tabung gas 3 kilogram bagi masyarakat Samarinda.

Bacaan Lainnya

Dia menegaskan tabung gas 3 kilogram semestinya untuk kelompok rumah tangga miskin penghasilan di bawah Rp1,5 juta per bulan. Demikian juga bagi sektor usaha mikro.

Sedangkan sektor usaha beromzet Rp50 juta per bulan, menurut Nina seharusnya sudah beralih menggunakan tabung gas 12 kilogram. “Aturan penggunaan tabung gas 3 kilogram sudah jelas,” tegasnya.

Nina mengaku memperoleh informasi konsumsi gas subsidi dari Dinas Perdagangan Kota Samarinda. Masyarakat Samarinda mengonsumsi hingga 27 ribu tabung gas 3 kilogram selama pandemik Covid-19.

Sementara ini, PT Pertagas Niaga telah memasang 10.003 jaringan gas (jargas) kota di sejumlah bagian Samarinda. Dari total tersebut itu, sebanyak 9.492 di antaranya sudah dialiri gas untuk kebutuhan rumah tangga.

Seperti contohnya, warga yang bermukim di Samarinda Ilir dan Sambutan semestinya sudah bisa memanfaatkan program jargas ini. Sehingga ke depan, Nina mengharapkan keberadaan jargas nantinya mampu mengurangi konsumsi gas 3 kilogram pada 2022 nanti. Menurutnya, jargas menawarkan pasokan gas yang murah sekaligus aman penggunaan.

Pertamina sudah menerapkan strategi penggantian tabung gas 3 kilogram dengan Bright Gas 5,5 kilogram. Dua tabung gas subsidi plus Rp50 ribu bisa ditukarkan dengan Bright Gas. Sehingga LPG bersubsidi dapat digunakan oleh warga yang benar-benar berhak mendapatkan.

Pemkot Samarinda pun berencana menerapkan program penukaran tabung 3 kilogram ini di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS) Samarinda.

“Kami akan pelajari dulu program ini, mungkin bisa kami coba di lingkungan pegawai pemkot,” ujarnya.

 

[fr|id]

Pos terkait