Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh Bertepatan dengan Nisfu Syaban

  • Whatsapp
Ilustrasi membaca niat puasa Ayyamul Bidh yang jatuh bertepatan dengan Nisfu Syaban. (Sumber: Shutterstock)

PRANALA.CO – Setiap pertengahan bulan Hijriyah, tepatnya tanggal 13,14, dan 15 kecuali hari tasyrik pada 13 Dzulhijjah, ada ibadah sunnah yang bisa dilaksanakan yakni, puasa ayyamul bidh. Pada bulan Syaban 1442 H, puasa tersebut dijalankan pada hari Sabtu, Ahad, dan Senin, 27, 28, dan 29 Maret 2021. Sebenarnya, apa itu puasa ayyamul bidh?

Dijelaskan dalam buku Buka Puasa Bersama Rasulullah Saw oleh Muhammad Ridho al-Thurisinai, puasa ayyamul bidh yang dilaksanakan tiga hari setiap bulan adalah salah satu puasa sunnah yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw.

Bacaan Lainnya

Puasa ini disunnahkan dan nilainya terhitung seperti puasa tahunan karena amal shaleh dalam Islam diganjar sepuluh kali lipat. Berpuasa setiap hari diganjar seperti puasa sepuluh hari sehingga siapa pun yang berpuasa tiga hari setiap bulannya, dia terhitung berpuasa setahun penuh.

Ini sesuai dengan riwayat, “Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kau lakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah saw bersabda, “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa,” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasai).

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah dia berkata, “Kekasihku, Rasulullah saw mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dilansir dari situs NU Online, menurut keterangan yang ada dalam kitab ‘Umdatul Qari’Syarhu Shahihil Bukhari dijelaskan alasan kenapa dinamai ayyamul bidh terkait dengan kisah Nabi Adam as saat diturunkan ke bumi. Riwayat Ibnu Abbas mengatakan, saat Nabi Adam as diturunkan, seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam atau gosong.

Lalu Allah memberikan wahyu kepadanya agar berpuasa selama tiga hari setiap tanggal 13, 14, 15. Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih. Kemudian pada hari kedua, sepertiga badannya lagi menjadi putih dan saat dia berpuasa pada hari ketiga, sisa badannya menjadi putih.

ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ

Artinya, “Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarknya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih.”

Pendapat lain mengatakan alasan dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang disinari bulan. Bulan selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam sampai terbit kembali. Oleh karena itu, pada hari-hari itu, malam dan siang seluruhnya menjadi putih (terang).

وَقِيلَ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ لَيَالِي أَيَّامِ الْبِيضِ مُقْمِرةٌ وَلَمْ يَزَلِ الْقَمَرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلَوعِهَا فِي الدُّنْيَا فَتَصِيُر اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ كُلُّهَا بِيضًا

Artinya, “Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang),” (Lihat Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi, ‘Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80).

 

[RED]

Pos terkait