SANGATTA – Pembangunan pelabuhan dan bandar udara (bandara) di Kutai Timur kembali disuarakan. Kali ini datang dari Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kutim, Pandi Widiarto.
Menurutnya, dua infrastruktur besar itu sudah menjadi kebutuhan mendesak. Bukan sekadar program jangka panjang.
“Kita yakini dampaknya sangat positif. Investasi akan semakin baik dan perekonomian juga akan semakin tumbuh,” kata Pandi di Sangatta, Selasa (19/8).
Pandi membandingkan Kutai Timur dengan daerah tetangga. Samarinda dan Berau telah memiliki bandara. Dampaknya, roda ekonomi di wilayah itu lebih cepat berputar.
Dengan luas wilayah yang besar dan potensi sumber daya melimpah, Kutim dinilai sudah seharusnya memiliki akses transportasi udara dan laut.
“Keterlambatan membangun infrastruktur transportasi bisa membuat Kutim semakin tertinggal,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Pandi menilai pelabuhan akan memangkas biaya logistik. Distribusi kebutuhan pokok bisa lebih cepat dan murah.
“Kalau bahan pokok lancar sampai, harga-harga juga bisa ikut turun. Jadi perekonomian kita semakin baik,” tegasnya.
Sementara keberadaan bandara dipercaya mampu membuka pintu investasi lebih beragam. Tidak hanya tambang dan perkebunan, tapi juga perdagangan, jasa, hingga pusat hiburan modern.
Pandi membayangkan Sangatta bisa tumbuh sebagai kota modern bila bandara benar-benar terwujud. Mall, kafe, dan fasilitas publik modern akan lebih mudah hadir.
“Investasi perekonomian lokal juga kita butuh. Mudah-mudahan mall juga bisa terbangun, kita butuh hal-hal lain yang modern,” tambahnya.
Lebih jauh, Pandi menyebut pelabuhan dan bandara bukan hanya soal akses transportasi. Infrastruktur itu adalah instrumen penting untuk mengubah arah pembangunan Kutim.
“Kalau semua terwujud, secara tidak langsung Sangatta sebagai ibu kota Kutim akan berkembang menjadi Kota Jasa di masa depan,” pungkasnya. (HAF)














