Pranala.co, BONTANG – Hujan deras yang mengguyur Kota Bontang sejak Rabu (22/10/2025) siang kembali memicu banjir di sejumlah wilayah. Sedikitnya empat kelurahan terdampak genangan, yakni Gunung Telihan, Guntung, Satimpo, dan Api-Api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang, Usman, mengatakan banjir paling parah terjadi di Kelurahan Gunung Telihan. Air sempat masuk ke rumah-rumah warga dan membuat aktivitas malam itu terganggu.
“Kalau hujan di daerah hulu masih terjadi, maka statusnya tetap waspada. Apalagi menjelang malam, info yang kami terima air laut juga pasang hingga mencapai dua meter,” ujarnya didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik, Ismail Abdullah.
Menurut Usman, genangan di Gunung Telihan terjadi di RT 12, 13, 14, 23, dan 29. Penyebab utamanya: sistem drainase yang belum berfungsi optimal.
Banyak saluran tersumbat oleh sedimen dan sampah, sementara ukuran parit yang kecil tidak mampu menampung debit air tinggi saat hujan deras. Alhasil, setiap kali curah hujan meningkat, air langsung meluap ke jalan bahkan ke dalam rumah.
Kondisi serupa juga dialami warga Kelurahan Satimpo, tepatnya di sekitar Jalan HM Ardan. Di lokasi ini, genangan muncul akibat proyek perbaikan drainase yang masih berlangsung.
“Kalau di Telihan dan Satimpo, banjirnya bersifat sementara. Cepat naik saat hujan deras, tapi juga cepat surut,” jelas Usman.
Sementara di Kelurahan Guntung, air sempat menutup sebagian akses jalan utama meski tak sampai masuk ke rumah warga.
Berbeda dengan wilayah lain, banjir di Kelurahan Api-Api diperkirakan bertahan lebih lama. Pemicunya bukan hanya hujan lokal, tetapi luapan Sungai Bontang akibat kiriman air dari daerah hulu.
“Laporan sementara, air sudah menggenangi Jalan Imam Bonjol, Jalan Polo Air, Perumahan Bontang Permai, dan kawasan sekitar aliran Sungai Bontang,” kata Ismail Abdullah.
Situasi bisa memburuk jika pasang laut dan hujan deras terjadi bersamaan. Air laut yang naik dapat menahan aliran sungai, sehingga air dari hulu meluap ke permukiman warga.
BPBD Bontang mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama pada malam hari ketika pasang laut mencapai puncaknya.
“Kalau dua kondisi itu terjadi bersamaan, air laut bisa menahan aliran sungai dan menyebabkan luapan,” kata Usman mengingatkan.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak membuang sampah sembarangan yang bisa memperparah sumbatan drainase. “Kita semua punya peran. Drainase bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga warga,” tegasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















