RENCANA besar menjadikan Danau Kanaan sebagai destinasi wisata unggulan di Bontang resmi dibatalkan. Namun di tengah keterbatasan anggaran, Pemerintah Kota Bontang memastikan satu hal tetap berjalan: pengendalian banjir.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan pembatalan proyek multiyears revitalisasi Danau Kanaan hanya berlaku pada sektor pengembangan wisatanya. Sementara fungsi kawasan tersebut sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir tetap dipertahankan.
“Walaupun revitalisasi Danau Kanaan sebagai destinasi wisata kita batalkan, program pengendalian banjir tetap jalan,” kata Neni, Rabu (13/5/2026).
Sebagai langkah utama, Pemkot Bontang tahun ini mulai membangun Polder Tanjung Laut dengan dukungan anggaran sekitar Rp43 miliar dari Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Proyek itu diproyeksikan menjadi salah satu infrastruktur utama untuk mengurangi genangan di kawasan rawan banjir.
Menurut Neni, proyek tersebut sempat tertahan karena proses pembebasan lahan yang memakan waktu cukup panjang. Namun seluruh tahapan administrasi akhirnya rampung pada akhir tahun lalu sehingga pembangunan fisik kini siap dimulai.
“Prosesnya panjang. Tapi alhamdulillah semuanya bisa diselesaikan sampai akhir tahun. Ini menjadi langkah penting agar masalah banjir bisa ditangani secara permanen,” ujarnya.
Tidak hanya berfungsi sebagai kolam retensi, kawasan Polder Tanjung Laut juga disiapkan menjadi ruang terbuka publik dengan konsep urban tourism. Pemerintah berharap kawasan itu nantinya tidak sekadar menjadi infrastruktur teknis, tetapi juga ruang rekreasi baru bagi warga.
“Ke depan tidak hanya menjadi kolam retensi, tetapi juga ruang terbuka yang nyaman dan berpotensi menambah pendapatan asli daerah,” jelas Neni.
Di tengah penyesuaian anggaran daerah, Pemkot Bontang juga tetap melanjutkan pembangunan drainase, turap, hingga pengerukan sungai dan kanal yang mengalami pendangkalan. Upaya itu termasuk dilakukan di kawasan Danau Kanaan yang selama ini menjadi salah satu titik penampungan air di kota tersebut.
“Jadi kami tetap fokus untuk mengendalikan banjir di Kota Bontang,” tegasnya.
Dia mengakui, untuk sementara prioritas pembangunan diarahkan pada pembenahan destinasi wisata yang sudah ada dibanding memulai proyek baru bernilai besar. Di sisi lain, ancaman banjir dinilai menjadi persoalan yang lebih mendesak untuk ditangani secara bertahap dan berkelanjutan. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















