Sangatta, PRANALA.CO – Tidak ada lebih menggoda selera saat berkunjung ke Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim) selain mencicipi Gula Gait Sangkulirang, oleh-oleh khas yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Terbuat dari gula aren asli Sangkulirang, produk ini tidak hanya memikat lidah, tetapi juga membawa cerita panjang tentang tradisi dan ketekunan usaha keluarga yang kini telah mengukir nama di pasar nasional.
Gula Gait Sangkulirang bukanlah sekadar camilan biasa. Produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM lokal, Rohani, ini sudah menjadi ikon oleh-oleh yang selalu dicari-cari oleh warga Kutai Timur, terutama mereka yang sedang pulang kampung.
“Gula Gait ini dibuat dari gula aren khas Sangkulirang, yang memang sangat terkenal di Kutim. Itu yang membedakannya dari produk gula gait lainnya,” ujar Rohani, sambil membeberkan rahasia di balik kelezatannya.
Rohani berkisah bahwa usaha pembuatan Gula Gait ini sudah turun-temurun dalam keluarganya. Meskipun proses pembuatannya masih dilakukan dengan cara tradisional, cita rasa manis yang dihasilkan tidak hanya digemari masyarakat lokal, tetapi juga sudah menembus pasar luar daerah. Bahkan, produk ini sudah sampai di Bali, Medan, Palangka Raya, dan Papua.
Kisah menarik pun muncul ketika Gula Gait Sangkulirang dibawa ke Amerika oleh seorang warga Kutim yang menghadiri acara di Jakarta. “Dari sana, orang Amerika tersebut suka dan minta kirim lagi,” tutur Rohani, mengisahkan betapa produk lokal ini mampu menembus pasar internasional.
Setiap tahunnya, produksi Gula Gait Sangkulirang mengalami peningkatan yang pesat, terutama saat ada event pameran atau liburan. “Kalau ada pameran atau kunjungan pejabat, bisa bikin sampai 1.000 hingga 1.500 biji per hari. Bahkan, minggu lalu, saya bikin sampai 8 ribu biji,” ungkap Rohani.
Meski popularitasnya terus berkembang, Rohani mengaku perjuangan untuk mencapai titik ini tidaklah mudah. Sebagai pelaku UMKM di Kutim, dirinya belum pernah mendapatkan dukungan permodalan langsung dari pemerintah daerah. Meskipun begitu, ia tetap bersyukur karena pernah mengikuti pelatihan pemasaran di Sangatta yang diadakan oleh pemerintah.
Namun, seperti yang diungkapkan Rohani, perhatian terhadap pelaku UMKM masih dirasa minim. “Kami tidak pernah mendapat bantuan langsung. Kalau dari dinas, paling hanya pesan produk kalau ada kegiatan atau pameran. Tapi untuk bantuan usaha, tidak ada,” jelasnya dengan harapan besar agar ke depan, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pengusaha lokal agar usahanya bisa berkembang lebih baik lagi.
Meski menghadapi tantangan dalam hal permodalan, Rohani tetap optimistis. Ia berharap agar usaha yang telah dikelola keluarganya selama bertahun-tahun ini dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas. “Harapan saya ke depan, agar ada perhatian lebih dari pemerintah untuk UMKM seperti kami, supaya kami bisa berkembang dan lebih dikenal lagi,” harapnya.
Gula Gait Sangkulirang kini menjadi simbol dari keberhasilan usaha kecil yang berakar kuat pada tradisi dan keahlian lokal. Dari Desa Banua Baru Ulu, usaha Rohani kini tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan Kutim yang berhasil menembus pasar nasional dan internasional. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















Comments 1