Tenggarong, PRANALA.CO — Asap tipis itu muncul pelan dari atap bangunan kayu di pinggir jalan Jenderal Sudirman, Desa Loa Kulu Kota, Kutai Kartangera (Kukar). Beberapa menit kemudian, lidah api sudah menari di udara, melahap cepat gudang penyimpanan barang bekas milik warga. Rabu (22/4/2025) pagi itu, tepat pukul 10.30 Wita, situasi berubah tegang.
Tapi api tak sempat bercerita lebih panjang. Hanya 15 menit berselang, kobaran itu padam. Tak sempat menjilat bangunan lain di sekitarnya. Tak sempat menimbulkan korban jiwa. Karena ketika warga baru mulai panik, para petugas pemadam kebakaran sudah lebih dulu bersiaga.
Mereka datang bukan dengan tangan kosong. Satu unit mobil kajama lengkap dengan peralatan — nozzle, selang, dua set alat pelindung diri. Empat personel dari Pos Sektor Damkar Loa Kulu — Hendri Pirwanto, Dede Cece, Abdul Wahid, dan Juni Darmawan — terjun langsung, dibantu personel dari Mako Damkarmat Kukar. Tidak banyak bicara. Langsung kerja.
“Kami menerima laporan dari relawan sekitar pukul 10.30 Wita. Api berhasil kami jinakkan total pada 10.45,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutai Kartanegara, Fida Hurasani.
Seolah tahu bahwa waktu adalah musuh utama dalam setiap kebakaran, tim bergerak dengan satu hal dalam kepala: jangan sampai api menang. Dan pagi itu, mereka berhasil.
Tidak ada rumah lain yang terbakar. Tidak ada korban jiwa. Yang tersisa hanyalah sisa arang di bangunan gudang yang kini sudah tak berbentuk.
“Kejadian ini sekali lagi membuktikan bahwa kesiapan personel dan sinergi lintas instansi menjadi kunci utama,” kata Fida.
Ia menyebut, kerja sama dengan Linmas Kecamatan Loa Kulu dan Polsek setempat sangat membantu pengamanan lokasi. Karena dalam setiap bencana, urusan tak pernah hanya soal api. Tapi juga soal ketertiban, soal rasa aman, dan soal komunikasi yang cepat.
“Kami tidak hanya datang untuk memadamkan, tapi juga menjaga. Menenangkan,” ujarnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















Comments 2