SANGATTA, Pranala.co – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sedang menulis babak baru dalam sejarah perekonomiannya. Setelah bertahun-tahun bergantung pada sektor hitam, daerah ini kini menunjukkan tanda-tanda transformasi fundamental. Kontribusi pertambangan terus merosot, sementara sektor pertanian dan industri mulai mengisi kekosongan.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim mencatat pergeseran struktural yang signifikan. Sektor pertambangan—yang dulu mendominasi hingga 79,67 persen pada 2023—kini hanya menyumbang 70,17 persen pada 2025. Penurunan hampir 10 persen dalam dua tahun ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi Kutim tak lagi sekadar “negeri di bawah kaki tambang”.
Sementara sektor pertambangan mengalami kontraksi, sejumlah sektor non-tambang justru menunjukkan performa gemilang. Sektor pertanian, misalnya, melonjak dari 7,66 persen pada 2023 menjadi 10,96 persen pada 2025. Angka itu menandakan kebangkitan sektor primer yang sempat terpinggirkan.
Tak kalah mengejutkan, sektor industri juga tumbuh pesat dari 3,22 persen menjadi 5,81 persen dalam periode yang sama. Peningkatan hampir dua kali lipat ini mencerminkan diversifikasi ekonomi yang mulai berbuah.
Statistisi Ahli Pertama BPS Kutim, Ayufi Reyza, menyebut fenomena ini sebagai indikasi shifting atau pergeseran struktur ekonomi daerah yang fundamental.
“Artinya sektor non-tambang mulai menunjukkan peran yang lebih besar dalam menopang perekonomian Kutim,” ujar Ayufi di Sangatta, Jumat (27/3/2026).
Ayufi menjelaskan keunggulan strategis sektor non-pertambangan dibandingkan sektor tambang. Pertanian dan industri memiliki karakteristik yang lebih responsif terhadap intervensi kebijakan pemerintah daerah.
Berbeda dengan sektor pertambangan yang cenderung bergantung pada faktor eksternal—seperti fluktuasi harga komoditas global dan permintaan pasar internasional—sektor non-tambang bisa didorong melalui program-program konkret.
“Ketika sektor tambang mengalami penurunan, ekonomi Kutim tidak ikut terkontraksi. Ini menunjukkan sektor lain mulai mampu menopang,” jelasnya.
Meski penurunan kontribusi pertambangan berdampak pada perlambatan ekonomi secara keseluruhan—dengan laju pertumbuhan hanya 1,03 persen pada 2025—angka tersebut sebenarnya menutupi realitas yang lebih optimistis.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi non-pertambangan mencapai sekitar 11 persen. Angka dua digit itu jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dan menunjukkan potensi besar sektor alternatif.
Ayufi menilai kondisi ini menjadi sinyal positif bagi masa depan perekonomian Kutim. Ketergantungan terhadap sektor tambang yang notabene sumber daya alam tak terbarui mulai berkurang, sementara sektor produktif lainnya semakin kuat. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















