JELANG Hari Raya Iduladha, kabar menenangkan datang bagi warga Bontang. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) memastikan hewan kurban yang beredar di kota tersebut dalam kondisi sehat dan aman dikonsumsi.
Hingga kini, petugas belum menemukan indikasi penyakit zoonosis atau penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia. Pemeriksaan dilakukan ketat sejak dua pekan terakhir di puluhan titik penjualan dan penampungan hewan kurban.
Setiap hewan yang telah lolos pemeriksaan diberi stiker khusus sebagai tanda telah melalui pengecekan kesehatan petugas lapangan.
Kepala Bidang Peternakan DKP3 Bontang, drh Riyono, mengatakan pengawasan tidak berhenti sebelum Idul Adha saja. Saat proses penyembelihan berlangsung nanti, petugas tetap diterjunkan ke lapangan.
“Dua minggu terakhir kita sudah melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan label stiker. Saat hari H nanti juga tetap ada kontrol di titik-titik pemotongan,” ujar Riyono, Senin (25/5/2026).
Banyaknya lokasi penyembelihan membuat DKP3 harus membagi tim pengawasan ke sejumlah titik secara bergantian. Namun, untuk masjid besar yang menjadi pusat penyembelihan hewan kurban, petugas akan disiagakan secara langsung.
Langkah ini dilakukan agar pemeriksaan dapat berjalan maksimal dan masyarakat merasa tenang saat menerima daging kurban.
Dari hasil pemeriksaan sementara, belum ditemukan kasus penyakit berbahaya pada hewan ternak yang masuk ke Bontang. Temuan itu menjadi sinyal positif karena risiko penularan penyakit ke manusia dapat ditekan.
Meski begitu, DKP3 tetap mengambil langkah antisipasi tambahan. Sejumlah sampel hewan dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih mendalam, termasuk deteksi penyakit internal seperti infeksi cacing hati.
“Hasil uji laboratorium dari Samarinda masih dalam proses dan diharapkan segera keluar sebelum Idul Adha,” katanya.
Riyono menjelaskan, hasil laboratorium nantinya akan digunakan untuk memetakan potensi penyakit hewan di wilayah Bontang. Jika ditemukan kasus tertentu, pemerintah akan memberikan rekomendasi penanganan yang sesuai.
Menurutnya, tidak semua temuan penyakit membuat seluruh bagian hewan harus dibuang.
“Dalam beberapa kasus seperti infeksi cacing hati, penanganannya relatif sederhana. Organ yang terinfeksi cukup dipisahkan dan dibuang, sementara bagian daging lainnya masih dapat dikonsumsi setelah dipastikan bersih,” jelasnya.
Ia juga menepis kekhawatiran masyarakat terkait beberapa penyakit pada ternak. Contohnya penyakit kuku pada hewan yang tidak tergolong zoonosis sehingga tidak membahayakan manusia.
“Penyakit itu memang berdampak pada kesehatan hewan, tapi tidak menular ke manusia,” tambahnya.
Tahun ini, pasokan hewan kurban di Bontang didominasi dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain itu, ada pula hewan yang didatangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara dari Pulau Jawa, distribusi umumnya berupa kambing dan domba.
“Total ada 1.400 ekor sapi, 1.007 kambing, dan 47 domba yang tersebar di 62 titik di wilayah Bontang, termasuk di wilayah perbatasan,” ungkap Riyono.
Ia menambahkan, Bontang termasuk wilayah endemik sehingga vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan rutin setiap tahun.
Hewan yang sudah diberi tanda pemeriksaan dipastikan telah melewati tahapan vaksinasi dan pengecekan kesehatan oleh petugas.
Di akhir keterangannya, DKP3 mengimbau masyarakat tetap memperhatikan kebersihan saat mengolah daging kurban. Warga juga diminta memisahkan organ yang terlihat tidak layak konsumsi agar keamanan pangan tetap terjaga.
“Dengan pengawasan berlapis ini, kami berharap pelaksanaan Iduladha di Bontang berjalan aman, sehat, dan tertib,” tutupnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















