AROMA masakan bergizi kembali tercium dari dapur-dapur komunal di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Setelah sempat rehat selama masa libur panjang sekolah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi bergulir kembali mulai Senin (13/7/2026) pagi ini.
Anak-anak sekolah kini bisa kembali menikmati sajian sehat di meja kelas mereka. Langkah ini sekaligus menandai diaktifkannya lagi 15 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh penjuru kota.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Bontang, Surya Dwi Saputra, memastikan pergerakan hari pertama ini berjalan tanpa hambatan berarti. Tim di lapangan sudah bergerak sejak subuh untuk memastikan asupan gizi ribuan siswa terpenuhi tepat waktu.
“Insya Allah hari ini 15 SPPG mulai operasional. Dari laporan yang saya terima, sejauh ini tidak ada kendala,” ujar Surya saat dihubungi via telepon, Senin (13/7/2026).
Meski sebagian besar dapur sudah mengebul, operasional program MBG di Bontang sebenarnya belum seratus persen pulih. Masih ada beberapa titik yang terpaksa menunda distribusi karena urusan dapur yang belum kelar.
Surya merinci, ada empat dapur gizi yang belum bisa melayani siswa karena masih menunggu validasi data final penerima manfaat. Akurasi data ini penting agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia atau salah sasaran.
“Sementara dua dapur lainnya masih dalam tahap pengajuan operasional kembali akibat perbaikan infrastruktur dan teknis lainnya,” kata Surya menjelaskan kondisi lapangan.
BGN Bontang juga meluruskan isu miring yang sempat berembus mengenai penghentian penyaluran MBG di sejumlah sekolah yang dianggap “elite”. Surya menegaskan bahwa tidak ada istilah pembatalan, melainkan penerapan skala prioritas.
Sekolah yang berada di bawah naungan yayasan perusahaan besar, seperti Vidatra dan YPK, memang masuk dalam daftar tunggu. Petugas memprioritaskan sekolah negeri dan wilayah yang lebih membutuhkan terlebih dahulu.
“Terkait kebijakan refocusing atau penyesuaian sasaran secara lebih luas, sampai saat ini kami masih menunggu arahan dari BGN pusat,” ucapnya menambahkan.
Mengenai wacana pemanfaatan kantin sekolah untuk membagikan makanan, Surya menyebut strategi itu kurang cocok untuk tata kota Bontang. Pola tersebut lebih difokuskan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang belum memiliki infrastruktur SPPG memadai.
Untuk area perkotaan seperti Bontang, keberadaan dapur terpusat lewat SPPG terbukti jauh lebih efektif dalam menjaga kualitas dan kebersihan makanan anak-anak.
“Kalau di kota, SPPG yang sudah ada tetap kita jalankan sebagai tulang punggung distribusi,” tegas Surya.
BGN Bontang menargetkan seluruh dapur gizi bisa segera beroperasi normal dalam waktu dekat agar pembagian makanan bisa merata tanpa ada anak yang terlewat. (*)

















