AKTIVITAS dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang mulai berhenti sejak Senin (22/6/2026). Program yang selama beberapa bulan terakhir rutin menyalurkan makanan bergizi kepada puluhan ribu penerima manfaat itu untuk sementara dihentikan hingga 11 Juli 2026.
Keputusan tersebut membuat layanan MBG tidak lagi tersedia bagi seluruh penerima manfaat, mulai dari peserta didik hingga kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Bontang, Dwi Surya Saputra, membenarkan penghentian sementara tersebut. Menurut dia, kebijakan berlaku secara nasional selama periode libur sekolah dan hari libur yang ditetapkan pemerintah.
“Iya betul, mulai hari ini tidak ada pelayanan MBG untuk peserta didik dan non peserta didik,” ujar Surya saat dihubungi, Senin (22/6/2026).
Surya menjelaskan, penghentian layanan mengacu pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 tentang penyesuaian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama masa libur.
Aturan itu berlaku untuk berbagai jenis hari libur, mulai dari libur sekolah, libur nasional, hingga libur khusus yang ditetapkan kepala daerah. Karena itu, kebijakan serupa juga diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia.
Dampak penghentian sementara tidak hanya dirasakan penerima manfaat. Sebanyak 22 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang selama ini menjadi pusat produksi makanan juga ikut menghentikan aktivitasnya.
Selama tidak beroperasi, dapur-dapur tersebut tidak menerima insentif operasional.
“Kebijakan ini diambil untuk menjaga kesesuaian antara aktivitas layanan dan penggunaan anggaran negara,” kata Surya.
Kondisi ini membuat aktivitas yang biasanya sibuk sejak pagi mendadak lengang. Tidak ada lagi distribusi makanan maupun kegiatan produksi yang selama ini menjadi rutinitas harian para petugas dapur.
Sebelum dihentikan sementara, program MBG di Bontang telah menjangkau 43.720 penerima manfaat dari total target 59.764 orang.
Kelompok terbesar berasal dari peserta didik sebanyak 33.278 orang. Selain itu, program juga menyasar 2.801 tenaga pendidik, 373 tenaga non-pendidik, 5.398 balita, 566 ibu hamil, dan 1.304 ibu menyusui.
Kelompok tersebut menjadi prioritas karena memiliki kebutuhan gizi yang tinggi. Pemenuhan asupan makanan bergizi dinilai berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, kesehatan ibu, hingga produktivitas sehari-hari.
Meski dihentikan sementara, BGN memastikan program akan kembali berjalan setelah masa libur berakhir.
“Harapan kami, setelah evaluasi dan penataan ulang, program ini bisa berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” tutup Surya. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















