SEJUMLAH dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang untuk sementara waktu dihentikan operasionalnya. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Pemerintah memastikan dapur yang di-suspend belum memenuhi standar yang dipersyaratkan untuk mendukung program nasional tersebut.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap MBG, langkah penghentian sementara ini menjadi perhatian. Namun bagi Pemkot Bontang, kualitas dan keamanan layanan tetap menjadi prioritas utama.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan dapur yang di-suspend masih memiliki sejumlah kekurangan, mulai dari tata letak fasilitas, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga persyaratan teknis lainnya.
“Yang belum di-top up itu karena memang belum sesuai regulasi. Misalnya layout-nya, IPAL-nya, dan persyaratan lain yang masih kurang. Sehingga untuk sementara disuspend,” ujar Neni.
Menurutnya, dapur yang belum memenuhi standar otomatis tidak mendapatkan pencairan dana operasional. Kebijakan itu diterapkan agar seluruh penyelenggara program mematuhi regulasi yang telah ditetapkan.
“Program ini tetap jalan. Hanya memang harus sesuai regulasi. Dapur yang tidak sesuai ya disuspend,” tegasnya.
Di balik evaluasi sejumlah dapur, capaian Program Makan Bergizi Gratis di Bontang justru menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.
Data Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Bontang per 2 Juni 2026 mencatat jumlah penerima manfaat telah mencapai 43.720 orang. Angka itu setara sekitar 73 persen dari target 59.764 penerima.
Kelompok penerima manfaat terbesar berasal dari peserta didik sebanyak 33.278 orang. Selain itu terdapat 2.801 tenaga pendidik, 373 tenaga non-pendidik, 5.398 balita, 566 ibu hamil, dan 1.304 ibu menyusui.
Capaian tersebut menunjukkan program MBG mulai menjangkau kelompok masyarakat yang menjadi prioritas peningkatan gizi.
Meski jumlah penerima manfaat terus bertambah, Neni mengakui infrastruktur pendukung program masih menjadi pekerjaan rumah.
Jumlah dapur MBG yang tersedia saat ini dinilai belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan masyarakat Bontang. Akibatnya, masih ada warga yang belum mendapatkan layanan program tersebut.
“Bontang ini kotanya kecil, tapi dapurnya masih sedikit. Yang ada saja masih kurang,” katanya.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah berharap semakin banyak dapur yang memenuhi persyaratan sehingga dapat segera beroperasi dan memperluas cakupan layanan.
Di lapangan, Program Makan Bergizi Gratis mendapat sambutan hangat dari para siswa.
Neni mengaku kerap menerima cerita langsung mengenai kebahagiaan anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Bagi sebagian siswa, kehadiran MBG bukan hanya soal makanan, tetapi juga perhatian terhadap kebutuhan gizi mereka setiap hari.
“Anak-anak itu bahagia sekali. Mereka sangat mengharapkan makanan bergizi gratis ini,” ungkapnya.
Antusiasme itu menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga, sekaligus memperluas jangkauan layanan ke masyarakat yang belum tersentuh program.
Selain jumlah dapur, kualitas makanan juga menjadi perhatian utama.
Neni menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya penerima manfaat, tetapi juga dari mutu makanan yang disajikan. Karena itu, mitra pengelola dapur diminta kreatif menyusun menu yang sehat, layak konsumsi, dan bervariasi meski dengan anggaran yang terbatas.
“Tergantung mitranya bagaimana menyajikan makanan yang bagus dan bervariasi. Memang dengan dana terbatas itu berat, tapi harus bisa,” ujarnya.
Dia berharap dapur-dapur yang saat ini di-suspend segera melengkapi seluruh persyaratan yang dibutuhkan. Jika seluruh dapur dapat kembali beroperasi, target pelayanan MBG akan semakin mudah tercapai dan manfaatnya bisa dirasakan lebih merata oleh masyarakat, terutama anak-anak yang menanti program tersebut hadir setiap hari. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















