Ekonomi Kaltim Stabil, Ekspor Batu Bara dan CPO Meningkat

Ilustrasi aktivitas pengangkutan kelapa sawit.

PRANALA.CO, Samarinda – Pandemi Covid-19 yang terjadi hingga mendekati akhir tahun, berdampak cukup signifikan terhadap perekonomian di daerah. Tak terkecuali di Kalimantan Timur (Kaltim).

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono, ekonomi Kaltim pada Triwulan III lebih baik dari triwulan sebelumnya. Ekonomi Kaltim saat ini terkontraksi sebesar 4,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

“Lebih baik dari kontraksi triwulan sebelumnya yang lebih dalam mencapai 5,46 persen (yoy),” ujar Tutuk, Selasa (10/11).

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kaltim berada dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat kontraksi sebesar 3.49 persen (yoy). Membaiknya perekonomian Kaltim ditopang oleh membaiknya lapangan usaha utama serta kembali menggeliatnya konsumsi pemerintah maupun masyarakat.

Lapangan usaha yang dimaksud diantaranya volume ekspor non migas tercatat mengalami perbaikan dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 16,02 persen (yoy) menjadi 15,88 persen (yoy) di triwulan III 2020.

Hal tersebut disebabkan oleh membaiknya ekspor batu bara serta tingginya pertumbuhan ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Tingginya pertumbuhan ekspor CPO juga diriingi oleh peningkatan harga yang cukup tinggi dari dari 7,66 persen (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 31,71 persen (yoy).

Alasan di balik tingginya ekspor CPO tersebut utamanya disebabkan pengiriman ke Tiongkok yang mengalami pertumbuhan dari -33,42 persen (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 28,27 persen (yoy).

“Pangsa ekspor CPO ke Tiongkok sendiri berkontribusi mencapai 66 persen terhadap total ekspor CPO Kaltim,” jelas Tutuk.

Selanjutnya, pertumbuhan volume ekspor batu bara Kaltim triwulan III 2020 tercatat sedikit membaik dari minus 16,56 persen (yoy) menjadi minus 16,38 persen (yoy).

Perbaikan tersebut bersumber dari volume ekspor yang mampu tumbuh positif ke India, ASEAN, dan Korea Selatan di tengah masih terkontraksinya pertumbuhan ekspor ke Tiongkok.

Di sisi lain, curah hujan triwulan III 2020 tercatat sebesar 1789 mm lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1909 mm. Curah hujan yang lebih rendah membuat pelaku usaha tambang batu bara mampu meningkatkan produksinya.

“Kembali berproduksinya kilang minyak Pertamina RU V Balikpapan yang sempat menghentikan produksi pada April hingga Mei 2020 membuat kinerja industri pengolahan mengalami perbaikan,” paparnya.

Tutuk menyebutkan, realisasi investasi Refinery Development Master Plan (RDMP) (RDMP) RU V Kaltim triwulan III 2020 tercatat berada jauh di bawah rencana dan hanya mampu terealisasi sebesar 54 persen dari target setelah pada triwulan sebelumnya mampu terealisasi lebih dari target mencapai 115 persen.

“Hal tersebut disebabkan adanya kendala teknis engineering dan hambatan mobilitas tenaga kerja,” ujarnya.

Menggeliatnya kembali aktivitas masyarakat tercermin dari hasil google mobility index pada triwulan III 2020 yaitu sebesar -11,43 persen dimana capaian tersebut lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar -16,09 persen.

“Hasil survei konsumen kami, terlihat bahwa adanya peningkatan indeks keyakinan konsumen dari 78,83 di triwulan II 2020 menjadi 89,11 di triwulan III 2020,” tutup dia.

 

 

[red]

More Stories
Klaim Lebih Steril, Debat Publik Pilkada Bontang Digelar di Samarinda