BONTANG, Pranala.co – Perekonomian Kota Bontang pada tahun 2024 mencatat kontraksi sebesar 2,15 persen, meski sektor non-migas menunjukkan pertumbuhan positif hingga 9,4 persen. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam evaluasi pemerintah kota untuk menyusun strategi pembangunan ke depan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan bahwa meski sektor migas masih mendominasi perekonomian kota, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan belum menunjukkan tren positif.
“Pertumbuhan ekonomi Kota Bontang secara keseluruhan masih mengalami kontraksi sebesar -2,51 persen,” kata Neni saat Musrenbang RPJMD 2025 di Pendopo Rujab Wali Kota, Senin (19/5/2025).
Neni melanjutkan, guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, Pemkot berkomitmen memperkuat sektor perikanan, pertanian, perdagangan, jasa, dan pariwisata.
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah program penciptaan 500 wirausaha baru setiap tahun. Program ini bertujuan memperkuat ekonomi lokal dan mendukung usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil.
“Perekonomian Bontang bisa lebih beragam dan tahan terhadap fluktuasi di sektor migas. Sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat dalam berwirausaha,” kata Neni.
PDRB Bontang dan Kontraksi Sektor Utama
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang, Nur Wahid, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp68,42 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) berada di angka Rp41,56 triliun.
Nur Wahid menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi ini utamanya disebabkan oleh kinerja negatif pada dua sektor utama, yakni Industri Pengolahan yang mengalami penurunan tajam sebesar -4,99 persen dan sektor Pertambangan serta Penggalian yang terkontraksi sebesar -4,82 persen.
Meski ada kontraksi di sektor utama, beberapa sektor lain justru mencatat pertumbuhan yang signifikan. Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 23,92 persen.
Diikuti sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 13,94 persen, Pengadaan Listrik dan Gas 10,63 persen, Jasa Lainnya 9,98 persen, serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang tumbuh 8,96 persen.
Struktur perekonomian Kota Bontang saat ini didominasi oleh empat lapangan usaha utama. Industri Pengolahan menyumbang porsi terbesar dengan kontribusi 76,33 persen terhadap total PDRB kota. Diikuti sektor Konstruksi sebesar 8,07 persen, Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 3,70 persen, serta Transportasi dan Pergudangan 2,00 persen.
Kota Bontang juga memberikan kontribusi penting bagi perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim), dengan PDRB yang mencapai 7,89 persen dari total PDRB provinsi pada tahun 2024. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










