Pranala.co, BONTANG — Malam itu laut tidak bersahabat. Gelap. Angin kencang. Ombak menggila. Di tengah kondisi ekstrem itu, Suwardi (26) berjuang mempertahankan hidupnya.
Anak buah kapal (ABK) tersebut nyaris meregang nyawa setelah kapal tempatnya bekerja tenggelam di perairan Bontang, Rabu (7/1/2026) malam. Ia terombang-ambing sendirian di laut lepas.
Hampir dua hari Suwardi dinyatakan hilang. Harapan keluarga dan tim pencari nyaris menipis. Namun takdir berkata lain.
Suwardi akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat pada Jumat (9/1/2026) dini hari. Ia bertahan hidup dengan cara yang tak terduga.
Kepala BPBD Kota Bontang, Usman, mengatakan kapal yang ditumpangi korban tak mampu melawan ganasnya badai dan gelombang tinggi.
“Kapal tenggelam akibat cuaca ekstrem. Alhamdulillah korban ditemukan selamat,” ujar Usman, didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bontang, Ismail Abdullah.
Proses penyelamatan bermula sekitar pukul 01.05 WITA. BPBD menerima laporan dari petugas pelabuhan ISPS PT Indominco.
Laporan itu menyebutkan seorang korban hanyut ditemukan Kapal Besar Madu Pisel. Informasi segera diteruskan ke Kepala Pelabuhan PT Indominco, Bambang.
Evakuasi dipimpin langsung Ketua Korps ISPS PT Indominco, Akbar. Tim bergerak cepat menuju lokasi penemuan.
Suwardi ditemukan mengapung di sekitar area shiploader PT Indominco. Kondisinya lemah, namun masih sadar.
Fakta paling mengejutkan terungkap kemudian. Selama berjam-jam di laut, Suwardi bertahan hanya dengan sebuah coolbox berbahan gabus.
Di dalamnya masih tersisa tiga bongkah es batu yang telah mencair. Coolbox itu menjadi alat apung darurat. Menjaga tubuhnya tetap mengambang di tengah ombak dan angin kencang.
Sekira pukul 01.30 WITA, Suwardi langsung dilarikan ke Klinik PT Indominco. Tim medis melakukan pemeriksaan intensif.
Hasilnya cukup melegakan. Kondisinya stabil. Pada pukul 04.10 WITA, Suwardi dipindahkan ke Kantor KSOP untuk selanjutnya dijemput keluarga.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan bahaya cuaca ekstrem di laut. Aktivitas pelayaran memiliki risiko tinggi, terutama saat musim cuaca buruk.
Ismail Abdullah mengimbau seluruh pelaku aktivitas kelautan agar selalu waspada. Prakiraan cuaca harus diperhatikan. Alat keselamatan wajib tersedia.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Terlebih cuaca ekstrem masih sering terjadi,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















