PENYALAHGUNAAN narkotika di kalangan remaja Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang mencatat lonjakan tajam jumlah remaja yang terpapar sabu dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Hingga Mei 2026, sudah enam remaja menjalani rehabilitasi di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah, Samarinda. Jumlah itu naik dua kali lipat dibanding total kasus sepanjang tahun lalu yang hanya tiga orang.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, menyebut lonjakan tersebut menjadi sinyal serius bahwa narkoba semakin dekat dengan kehidupan anak muda.
“Tahun lalu kami mencatat tiga remaja. Sekarang sampai Mei saja sudah enam orang direhabilitasi. Ini peningkatan yang signifikan,” ujar Lulyana, Jumat (22/5/2026).
BNN menemukan pola yang terus berulang dalam banyak kasus. Remaja awalnya hanya menjadi pengguna. Namun dalam sejumlah kasus, mereka perlahan masuk ke lingkaran peredaran narkoba.
Yang membuat situasi makin mengkhawatirkan, pengenalan narkoba justru banyak datang dari orang dewasa yang sudah bekerja.
“Banyak remaja pertama kali mengenal narkoba dari orang dewasa. Dari sini muncul semacam pola regenerasi,” kata Lulyana.
BNN khawatir siklus ini akan melahirkan jaringan baru di kalangan generasi muda. Sebab, beberapa kasus yang ditangani menunjukkan bahwa pelaku pengedar bahkan ada yang baru lulus sekolah.
“Kalau siklus ini tidak diputus, masalah baru bisa muncul. Pengedarnya ada yang masih sangat muda,” lanjutnya.
BNN Bontang mengingatkan penyalahgunaan narkoba jarang terjadi secara instan. Ada tahapan awal yang sering dianggap biasa oleh lingkungan sekitar.
Mulai dari kebiasaan keluar malam hingga dini hari, konsumsi minuman oplosan, sampai aktivitas ngelem. Menurut BNN, fase coba-coba menjadi pintu paling rawan.
“Biasanya dimulai dari oplosan, lalu muncul rasa penasaran mencoba hal lain sampai akhirnya masuk narkoba,” ungkapnya.
BNN menilai keluarga memegang peran paling penting dalam memutus rantai penyalahgunaan narkoba.
Pengawasan saja dinilai tidak cukup. Anak juga membutuhkan ruang komunikasi yang terbuka agar perubahan perilaku bisa lebih cepat terdeteksi.
BNN meminta orang tua mulai waspada jika anak mendadak lebih tertutup, mudah emosi, berubah lingkungan pergaulan, atau prestasi sekolah menurun drastis.
“Jangan tunggu sampai parah. Kalau ada tanda-tanda segera cari bantuan. Rehabilitasi bukan hukuman, tapi penyelamatan,” tegas Lulyana.
BNN Kota Bontang kini mulai mengubah pola penanganan. Pendekatan tidak lagi hanya membubarkan aktivitas remaja pada malam hari.
BNN bersama RT, kelurahan, kecamatan hingga OPD mulai menelusuri akar persoalan sampai ke lingkungan keluarga.
“Kami ingin tahu kenapa anak bisa bebas keluar malam, bagaimana kondisi keluarganya. Jadi bukan sekadar penertiban, tapi juga pendampingan,” jelasnya.
BNN menegaskan ancaman narkoba kini bisa masuk dari lingkungan paling dekat. Dari teman sepergaulan. Dari kebiasaan yang tampak biasa. Bahkan dari aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat dan keterlibatan orang tua disebut menjadi benteng utama untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















