Pranala.co, BONTANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang terus mempercepat langkah menuju pemerintahan digital. Bukan sekadar wacana, progres pembangunan sistem Smart City dan e-Government kini telah mencapai 75 persen.
“Bontang bergerak ke arah pemerintahan digital. Progresnya sudah 75 persen dan akan terus kita tingkatkan agar semua layanan bisa terintegrasi,” ujar Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Rabu (15/10).
Transformasi digital ini bukan hanya mengikuti tren. Bagi Pemkot Bontang, digitalisasi adalah strategi besar untuk menghadirkan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan efisien. Melalui sistem seperti e-planning, e-budgeting, dan e-delivery, seluruh proses pemerintahan dapat dipantau serta diakses secara terbuka.
“Dengan sistem digital, tata kelola pemerintahan menjadi lebih akuntabel dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” jelas Neni.
Salah satu inovasi yang paling dirasakan manfaatnya adalah program Bontang Bebas Kuota. Program ini menyediakan akses internet publik gratis di sejumlah titik kota. Bukan hanya untuk mendukung layanan pemerintahan, tetapi juga membantu dunia pendidikan, pelaku UMKM, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
“Program Bontang Bebas Kuota tidak hanya mendukung sektor pemerintahan, tetapi juga memberi dampak positif bagi pendidikan dan perekonomian lokal,” ujarnya.
Menurut data, Bontang kini tercatat sebagai kota dengan pengguna internet tertinggi di Kalimantan Timur. Warganya sudah terbiasa beraktivitas digital, baik untuk layanan publik, transaksi ekonomi, maupun kebutuhan sehari-hari.
“Warga Bontang sudah sangat melek digital. Tinggal bagaimana pemerintah memastikan sistemnya siap dan merata,” tambah Neni.
Namun, Wali Kota menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, Pemkot terus menggalakkan literasi digital agar seluruh lapisan masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya.
Konsep Smart City Bontang mencakup enam dimensi utama: Smart Governance, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, Smart Environment, dan Smart Branding.
Dengan pendekatan itu, digitalisasi tidak sekadar soal administrasi, melainkan upaya menyeluruh untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kini, dengan capaian 75 persen, Bontang masuk dalam deretan kota dengan implementasi Smart City terbaik di Kalimantan Timur. Neni optimistis, target 100 persen digitalisasi bisa tercapai bertahap dengan dukungan masyarakat dan sektor swasta.
“Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi soal bagaimana kita melayani masyarakat dengan lebih baik,” pungkasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















