KETEGANGAN di Laut Mediterania meningkat drastis, Senin (18/5/2026), ketika armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang membawa relawan internasional menuju Gaza dilaporkan dicegat di tengah laut. Di antara ratusan penumpang kapal, terdapat tiga wartawan Indonesia yang kini berada dalam situasi penuh ketidakpastian.
Sedikitnya 11 dari 61 kapal dalam rombongan dilaporkan telah ditahan atau dihentikan secara paksa. Salah satu kapal yang menjadi perhatian adalah Joseph, kapal yang membawa delegasi kemanusiaan bersama awak media asal Indonesia dari Harian Republika, iNews, dan Tempo.
Informasi yang diterima Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebut komunikasi dengan sejumlah kapal sempat terputus setelah terjadi penyergapan bersenjata di perairan internasional. Situasi itu memicu kekhawatiran terhadap keselamatan para relawan sipil yang berada di tengah jalur menuju Gaza.
Armada Global Sumud Flotilla membawa sekitar 450 relawan dari berbagai negara. Mereka berlayar untuk menembus blokade Gaza dan mengirim bantuan kemanusiaan ke wilayah yang selama bertahun-tahun mengalami pembatasan akses akibat konflik berkepanjangan.
Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengatakan situasi mulai berubah genting setelah kapal Tabariyya atau Cactus dilaporkan lebih dulu mengalami pencegatan sekitar pukul 14.00 WIB.
“Ini menjadi ancaman nyata karena kapal-kapal sipil mulai dipotong lajunya saat berlayar menuju Gaza,” kata Maimon mengutip Tribunnews.com.
Di dalam armada tersebut, Indonesia mengirim puluhan delegasi dari berbagai lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, dan SMART 171. Namun keberadaan tiga jurnalis Indonesia di tengah eskalasi konflik membuat perhatian publik ikut tertuju pada keselamatan awak media yang menjalankan peliputan langsung dari laut.
Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha, menyebut pencegatan terhadap kapal sipil di perairan internasional berpotensi memperluas ancaman terhadap seluruh relawan yang masih berlayar. Menurut dia, risiko penahanan paksa kini membayangi kapal-kapal lain yang belum mencapai wilayah tujuan.
Sementara itu, GPCI mengaku mulai membangun komunikasi darurat dengan KBRI dan KJRI di Yordania, Mesir, serta Turki. Langkah diplomatik dinilai mendesak mengingat sebagian delegasi Indonesia masih berada di jalur pelayaran yang sama.
Di Jakarta, posko pendampingan keluarga delegasi juga mulai diaktifkan. GPCI menyatakan keluarga para relawan dan jurnalis mendapat pembaruan informasi berkala di tengah situasi yang terus berkembang di Laut Mediterania. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















