Pranala.co, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mulai menyusun langkah untuk membangkitkan sektor pariwisata daerah. Bontang Kuala (BK), kawasan pesisir yang berada paling dekat dengan pusat kota, dipilih sebagai titik awal penataan dan pengembangan wisata Kota Taman.
Kawasan ini dinilai memiliki keunggulan dari sisi aksesibilitas dan sejarah kunjungan. Sejak lama, Bontang Kuala menjadi salah satu tujuan favorit warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah, sekaligus ruang hidup bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Ekonomi Kreatif alias Dispopar-Ekraf Kota Bontang, Eko Mashudi, mengatakan pemilihan Bontang Kuala didasarkan pada pertimbangan strategis dan potensi ekonomi yang sudah tumbuh secara alami di kawasan tersebut.
“Penataan pariwisata kami mulai dari Bontang Kuala karena lokasinya paling dekat dengan pusat kota dan paling sering dikunjungi. Dari sini, wajah pariwisata Bontang akan kita bangun,” ujar Eko, Selasa (3/2/2026).
Sebagai langkah awal revitalisasi, pemerintah berencana mempercantik kawasan dengan pemasangan lampu-lampu hias. Anggaran yang disiapkan berkisar antara Rp200 juta hingga Rp300 juta. Penataan ini ditujukan untuk menciptakan suasana baru, khususnya pada malam hari, agar kawasan semakin nyaman dan menarik bagi pengunjung.
“Tahun ini fokus pada pemasangan lampu hias. Ini bagian dari peremajaan kawasan wisata agar lebih hidup dan memiliki daya tarik visual,” jelasnya.
Menurut Eko, pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada keindahan, tetapi juga menjadi strategi ekonomi jangka panjang. Pemerintah berharap peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dari luar daerah, dapat mendorong perputaran ekonomi yang lebih luas di Kota Bontang.
“Kita ingin uang dari luar daerah ikut berputar di Bontang. Dari situlah UMKM dan ekonomi masyarakat bisa tumbuh,” katanya.
Selain menopang ekonomi warga, sektor pariwisata juga dipandang sebagai salah satu sumber potensial untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini dinilai penting di tengah keterbatasan fiskal akibat pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH).
“Dengan kondisi fiskal yang terbatas, kita harus kreatif mencari sumber PAD. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling realistis untuk dikembangkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, revitalisasi Bontang Kuala diharapkan dapat menjadi pemicu berkembangnya destinasi wisata lain di sekitarnya. Pemerintah membuka ruang bagi inisiatif masyarakat untuk menggerakkan kawasan, yang nantinya akan diperkuat dengan dukungan kebijakan dan fasilitas.
“Kalau satu kawasan sudah hidup, kawasan lain akan ikut bergerak. Masyarakat bisa memulai, lalu pemerintah hadir memberi dukungan,” tuturnya.
Eko menegaskan, Kota Bontang perlu memiliki destinasi wisata yang kuat sebagai identitas daerah. Mengingat posisinya yang tidak berada di jalur utama penghubung antarwilayah, Bontang harus memiliki daya tarik khusus agar orang tertarik berkunjung.
“Karena tidak dilewati jalur utama, Bontang harus punya alasan kuat agar orang mau datang. Pariwisata itulah identitas yang harus kita bangun,” ujar Kepala Dispopar-Ekraf Kota Bontang, Eko Mashudi. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















