DI BALIK rimbunnya pesisir Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), tersimpan tanaman langka yang diam-diam sedang berada di ujung ancaman.
Namanya Camptostemon philippinensis. Jenis mangrove ini bukan hanya langka, tetapi kini sudah masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau spesies tumbuhan yang terancam punah.
Yang membuat situasinya makin mengkhawatirkan, mangrove tersebut diduga menjadi salah satu habitat penting bagi bekantan, satwa endemik Kalimantan yang juga dilindungi.
Temuan itu berasal dari penelitian tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang didanai melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi 2022 serta RIIM Batch II 2023-2024.
Tim peneliti menyusuri kawasan pesisir sepanjang sekitar 200 kilometer, mulai dari Teluk Balikpapan, Sepaku, hingga Kota Balikpapan. Dari penelusuran itu, spesies langka tersebut ditemukan di Pulau Kowangan dan Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Di Pantai Lango, peneliti menemukan total 527 individu C. philippinensis. Namun jumlah itu belum tentu menjadi kabar sepenuhnya baik.
Sebab dari ratusan temuan tersebut, hanya 49 yang tercatat sebagai pohon dewasa. Selebihnya berupa semaian muda dan pancang yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan.
“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujar Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, dikutip dari laman resmi BRIN.
Mangrove ini hidup di zona lapis kedua kawasan pesisir, tumbuh di tanah berpasir dengan genangan air pasang. Habitatnya sangat spesifik dan tidak mudah tergantikan.
Karena itu, kerusakan kecil saja bisa berdampak besar terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut.
BRIN menyoroti ancaman terbesar justru datang dari aktivitas manusia.
Alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) disebut menjadi faktor yang dapat mempercepat hilangnya habitat mangrove langka itu.
Kondisinya makin rawan karena sebagian lokasi tumbuh mangrove berada dekat permukiman warga.
“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” tegas Istiana.
Ancaman itu bukan hanya soal hilangnya satu jenis tanaman.
Peneliti menemukan bekas gigitan bekantan pada daun mangrove tersebut. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa tanaman ini menjadi bagian penting dari habitat satwa berhidung panjang khas Kalimantan itu.
Nelayan setempat yang mendampingi penelitian, Darman, juga mengaku sering melihat kelompok bekantan di sekitar kawasan mangrove tersebut.
Jika habitat mangrove terus rusak, dampaknya bisa merembet langsung ke populasi bekantan.
Satwa endemik Kalimantan itu selama ini sangat bergantung pada kawasan mangrove dan hutan pesisir untuk bertahan hidup. Hilangnya vegetasi alami akan mempersempit ruang hidup sekaligus sumber makanan mereka.
Karena itu, BRIN mendorong langkah konservasi lebih serius sebelum semuanya terlambat.
Beberapa rekomendasi yang disiapkan antara lain restorasi kawasan mangrove rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman.
Penelitian lanjutan juga dinilai penting untuk mengetahui keragaman genetik serta peran ekologis spesies tersebut dalam ekosistem pesisir Kalimantan. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















