POLRES Bontang menyiagakan 23 personel Satuan Samapta untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Langkah ini diambil guna mempercepat respons pemadaman saat terjadi lonjakan kasus kebakaran lahan di wilayah hukum Kota Bontang, Kalimantan Timur.
Kepala Satuan (Kasat) Samapta Polres Bontang AKP Purwanto mengonfirmasi bahwa pasukan bantuan ini siap diterjunkan kapan saja untuk menyokong tim lapangan dari Polsek, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta instansi terkait.
"Anggota kami sifatnya perbantuan. Pastinya ada tim dari Polsek yang berkolaborasi dengan BPBD dan instansi terkait. Tapi kalau kurang, kami siap menurunkan personel untuk membantu," kata AKP Purwanto saat ditemui, Kamis (20/8/2026).
Kesiapsiagaan pasukan tidak sekadar status siaga di markas. Seluruh anggota yang ditunjuk telah menjalani pembekalan teknis penanggulangan kebakaran secara intensif.
Materi pelatihan meliputi pemahaman karakteristik api di lahan kering, pengoperasian alat pemadam kebakaran, hingga simulasi pemadaman beregu. Pembekalan ini memastikan setiap personel mampu bertindak efektif dan aman di lokasi bencana.
Guna menjaga kelancaran operasional harian, Satuan Samapta mengelompokkan 23 personel tersebut ke dalam beberapa regu siaga secara bergantian.
"Nantinya mereka akan dibagi beberapa tim. Semuanya akan standby. Tapi tim itu tidak mengganggu personel yang piket penjagaan," ujar Purwanto.
Peningkatan kesiapsiagaan ini menyusul maraknya insiden kebakaran lahan di wilayah hukum Polres Bontang dalam beberapa pekan terakhir. Cuaca panas ekstrem dan angin kencang mempercepat penyebaran api pada vegetasi yang mengering.
Peristiwa terbaru melanda kawasan Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Selasa (18/8/2026). Dalam insiden tersebut, api membakar lahan semak belukar seluas kurang lebih 0,06 hektare sebelum berhasil dipadamkan.
Kepolisian mengimbau warga dan pelaku usaha sektor pertanian agar tidak menggunakan metode pembakaran saat membersihkan atau membuka lahan baru.
Praktik pembakaran tradisional dinilai menjadi salah satu pemicu utama karhutla yang sering kali tidak terkendali saat diterpa angin kencang.
"Lebih baik tidak membuka lahan dengan cara membakar," tegas Purwanto. (*)













