Bontang, PRANALA.CO — Suara-suara kecil tapi penuh keyakinan menggema di Ruang Baca Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bontang, Selasa (29/4/2025). Sepuluh finalis cilik tampil bergantian membawakan kisah yang tak hanya menghibur, tapi juga sarat makna budaya lokal dalam ajang Lomba Bertutur tingkat SD/MI se-Kota Bontang.
Bukan hanya sekadar lomba. Gelaran yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang ini mengusung semangat lebih besar: mengenalkan anak-anak pada akar budaya sendiri—lewat cerita-cerita rakyat khas Bontang.
“Tahun ini, kami angkat tema cerita lokal. Kami ingin anak-anak mengenal budaya mereka sendiri, dan mencintainya sejak dini,” ujar Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti.
Dari 36 peserta yang mengirimkan video untuk seleksi awal, 10 siswa kelas empat terpilih ke babak final. Mereka datang dari berbagai SD dan MI, membawa cerita rakyat dari kampung halaman masing-masing dengan gaya dan penghayatan yang memukau para juri dan penonton.
Retno menjelaskan, bertutur bukan hanya soal kemampuan berbicara, tapi juga cara anak mengekspresikan ide dan menyampaikan pesan secara efektif. Dan semua itu, lanjutnya, tak bisa lepas dari satu kebiasaan penting: membaca.
“Semakin rajin membaca, semakin kaya kosa kata anak-anak. Imajinasi mereka juga makin luas. Dan yang paling penting, karakter mereka bisa dibentuk dari nilai moral cerita-cerita yang mereka baca,” tuturnya.
Ajang ini dibuka langsung Asisten Administrasi Umum Setda Bontang, Akhmad Suharto, mewakili Wali Kota. Dalam sambutannya, ia memberi apresiasi atas konsistensi DPK yang tiap tahun terus menyelenggarakan lomba bertutur.
“Ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah panggung kreativitas dan cinta budaya lokal,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada seluruh peserta untuk tidak berkecil hati bila belum meraih juara. Sebab yang paling utama, kata Suharto, adalah keberanian untuk tampil dan pengalaman yang didapat.
"Menang atau kalah bukan segalanya. Yang penting, kalian berani bercerita, berani belajar, dan berani bermimpi," tutupnya.
Dari podium kecil di Perpusda Bontang hari itu, bukan hanya cerita yang mengalir. Tapi juga harapan, bahwa di tangan anak-anak inilah cerita-cerita lokal akan tetap hidup—dan diteruskan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















