MUSIM kemarau di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun ini datang tidak seperti biasanya. Meski kalender klimatologi menunjukkan puncak kemarau berlangsung sejak akhir Juni hingga Agustus, hujan masih turun di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belum sepenuhnya terlihat, tetapi justru diperkirakan meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim meminta masyarakat tidak lengah. Memasuki akhir Juli hingga Agustus, risiko Karhutla diprediksi semakin tinggi seiring meningkatnya kekeringan lahan.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo, mengatakan dinamika cuaca menyebabkan musim kemarau mengalami pergeseran. Meski intensitas hujan mulai berkurang, sejumlah daerah masih sesekali diguyur hujan sehingga kondisi kemarau ekstrem belum dirasakan secara menyeluruh.
Kondisi ini menyebabkan kemarau bergeser, sehingga situasi ekstrem kemarau secara menyeluruh belum begitu dirasakan hingga saat ini.
"Kami perkirakan dari akhir Juli sampai Agustus nanti akan terus kita pantau perkembangannya," kata Buyung dalam diskusi virtual bertajuk Karhutla Kaltim: Mitigasi, Kolaborasi dan Tantangan di Lapangan, Kamis (23/7/2026).
BPBD mencatat sedikitnya empat kabupaten memiliki tingkat kerawanan Karhutla paling tinggi berdasarkan pemetaan Pusat Data dan Informasi (Pusdating) dan laporan BPBD kabupaten/kota.
Daerah tersebut meliputi: Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Paser. Wilayah-wilayah ini menjadi fokus pengawasan karena memiliki kawasan lahan yang cukup luas dan rentan mengalami kebakaran saat curah hujan menurun.
Meski belum memasuki puncak kemarau, laporan di lapangan menunjukkan kebakaran hutan dan lahan hampir terjadi setiap hari di beberapa daerah di Kalimantan Timur.
Beruntung, sebagian besar kejadian masih dapat dikendalikan sebelum meluas. Luas area yang terbakar umumnya masih berada di bawah lima hektare berkat respons cepat tim gabungan di tingkat kabupaten dan kota.
Namun BPBD mengingatkan situasi bisa berubah apabila cuaca semakin kering dalam beberapa pekan ke depan. Menurut Buyung, sebagian besar kasus Karhutla bukan dipicu faktor alam, melainkan aktivitas manusia yang kurang berhati-hati.
Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain: Pembukaan lahan dengan cara membakar; Pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan; Puntung rokok yang dibuang sembarangan di kawasan kering.
Saat musim kemarau, vegetasi dan lahan menjadi jauh lebih mudah terbakar sehingga percikan api sekecil apa pun dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
"Kita ketahui pada musim kemarau ini tingkat kekeringan lahan sangat tinggi sehingga mudah terbakar. Kesalahan kecil yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran semakin meluas," tegas Buyung.
Mengantisipasi peningkatan Karhutla, BPBD Provinsi Kaltim menerapkan sistem satu komando dalam penanganan kebencanaan.
Koordinasi dilakukan bersama BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, Manggala Agni, instansi teknis, relawan hingga masyarakat.
Selain memperkuat patroli rutin, tim gabungan juga terus memantau titik panas (hotspot) yang terdeteksi maupun laporan cepat dari warga. Langkah ini dilakukan agar kebakaran dapat dipadamkan sebelum meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan maupun permukiman.
Memasuki puncak kemarau, BPBD berharap masyarakat ikut berperan aktif dengan menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Kewaspadaan bersama dinilai menjadi kunci agar ancaman Karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (*)















